IE-CEPA diratifikasi, RI perlu upayakan ekonomi berkelanjutan

IE-CEPA diratifikasi, RI perlu upayakan ekonomi berkelanjutan

Pekerja mengangkut tandan buah segar kelapa sawit hasil panen di PT Ramajaya Pramukti di Kabupaten Siak, Riau, Rabu (2/10/2019). Masalah perang dagang Amerika Serikat dengan China dan kampanye hitam dari negara-negara Uni Eropa bahwa sawit tidak ramah lingkungan masih menjadi faktor utama yang menyebabkan harga CPO atau minyak sawit mentah fluktuatif di pasar internasional. ANTARA FOTO/FB Anggoro/wsj.

menandakan bahwa masih banyak warga Swiss yang khawatir dengan isu keberlanjutan di Indonesia terlepas dari suara mayoritas dalam referendum
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan Indonesia perlu serius pada upaya kegiatan ekonomi yang berkelanjutan setelah hasil referendum rakyat Swiss menyetujui ratifikasi Indonesia-EFTA CEPA.

"Untuk menyukseskan kemitraan Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (Indonesia-EFTA CEPA), upaya-upaya keberlanjutan tersebut meliputi metode budidaya tanaman dengan cara-cara yang ramah lingkungan dan juga pelaksanaan kegiatan ekonomi yang memperhatikan unsur keberlanjutan dan tidak eksploitatif," kata Pingkan Audrine Kosijungan dalam rilis di Jakarta, Selasa.

Menurut Pingkan, hal tersebut penting untuk mendukung kelancaran komoditas Indonesia dalam memasuki dan bersaing di pasar Eropa.

Lolosnya perjanjian dagang antara Indonesia dengan EFTA dalam kerangka CEPA pada referendum Swiss yang berlangsung tanggal 7 Maret 2021 waktu setempat merupakan berita baik bagi hubungan antara Indonesia dan Swiss, beserta negara-negara EFTA lainnya yaitu Liechtenstein, Norwegia dan Islandia.

Pada referendum yang dilakukan tersebut, Indonesia-EFTA CEPA atau yang juga dikenal dengan istilah IE-CEPA lolos tipis hanya dengan 51,6 persen suara dari total 2,7 juta penduduk yang tercatat memberikan suaranya dalam referendum.

"Hal ini menandakan bahwa masih banyak warga Swiss yang khawatir dengan isu keberlanjutan di Indonesia terlepas dari suara mayoritas dalam referendum. Jika Indonesia ingin mengoptimalkan manfaat IE-CEPA dan meningkatkan ekspor ke pasar EFTA, maka Indonesia perlu terus menunjukkan peningkatan praktik keberlanjutannya terutama dalam implementasi perjanjian ekonomi," paparnya.

Ia mengingatkan bahwa isu keberlanjutan dalam pertanian, yang paling sering disorot adalah komoditas kelapa sawit dengan produk olahannya berupa minyak sawit.

Perjanjian IE-CEPA merupakan kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan negara-negara European Free Trade Association (EFTA) dengan anggota Swiss, Norwegia, Islandia dan Liechtenstein yang ditandatangani pada 2018 setelah melalui 15 putaran perundingan.

Perjanjian ini mencakup perdagangan barang, jasa, investasi serta peningkatan kapasitas sehingga produk-produk Indonesia akan mendapatkan akses pasar berupa konsesi penghapusan dan pengurangan tarif menjadi lebih kompetitif ke pasar EFTA.

Indonesia akan mendapatkan penghapusan 7.042 pos tarif Swiss dan Liechtenstein, 6.338 pos tarif Norwegia dan 8.100 pos tarif Islandia. Total ekspor Indonesia ke pasar EFTA pada 2020 mencapai 3,4 miliar dolar AS dengan neraca surplus bagi Indonesia sebesar 1,6 miliar dolar AS.

Baca juga: Mendag: Hasil referendum Swiss beri angin segar IE--CEPA
Baca juga: Ratifikasi IE-CEPA, Airlangga: Kampanye negatif sawit tak didukung
Baca juga: SwissCham sambut peluang kolaborasi setelah hasil referendum IE-CEPA

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar