Artikel

Ke mana APD-APD kita?

Oleh M. Hari Atmoko

Ke mana APD-APD kita?

Pementasan performa seni oleh dua mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta di Studio Mendut Kabupaten Magelang, Jateng, Jumat (5/3/2021). (ANTARA/Hari Atmoko)

Kalau bisa ya sehat secara protokol kesehatan, tapi juga kreatif
Magelang (ANTARA) - Seakan melepas kepenatan dari perjumpaan melalui layar daring selama pandemi COVID-19, sejumlah mahasiswa pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan seorang pengajarnya, Sutanto Mendut, menjalani cara perkuliahan sekaligus pentas seni.

Sang dosen memfasilitasi mahasiswanya berperforma seni di tempat yang dikelolanya, Studio Mendut, sekitar 100 meter timur Candi Mendut Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Beberapa pegiat seniman petani Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang dirawat Sutanto selama sekitar 20 tahun terakhir, juga dihadirkan untuk nonton pentas mahasiswa. Tak disangka oleh Tanto Mendut, seorang sahabatnya yang perupa dan "seniman nomaden", Arahmaiani, juga datang.

Jumlah seluruh hadirin dengan menerapkan protokol kesehatan di Studio Mendut --arena terbuka untuk aktivitas seni-budaya yang artistik dan bernuana alami--, Jumat (5/3), tak lebih dari 30-an orang.

Tentu saja sang dosen dengan cara bebas dan terbuka memimpin perkuliahannya.

Dijelaskannya bagian materi utama mata kuliah, Seni dan Lingkungan Dimensional. Guyonan mewarnai kental Tanto Mendut yang juga budayawan Magelang tersebut. Saat berbicara dalam jam kuliah di hadapan mahasiswanya, seakan tak ada juntrungan.

Suasana seolah main-main, banyak tertawa. Audiensnya sambil "mengemil" juga tak dilarang. Model kuliahnya memang dibangun sang dosen secara cair di sana sini, untuk menghadirkan kreativitas, berdaya kritis dan inovatif, serta tentu saja bermuatan penghormatan terhadap kemanusiaan dan lingkungan.

Laksi Shitaresmi, seorang mahasiswinya, menggantungkan karya instalasi berupa pakaian alat pelindung diri (APD) yang biasa dikenakan petugas medis saat menangani pasien virus. Sejumlah pegiat Komunitas Lima Gunung membantunya memasang instalasi APD itu di tengah panggung terbuka Studio Mendut.

Pakaian APD itu, termasuk di bagian tempat wajah, telah dipolesnya dengan aneka bercak warna-warni fosfor. Ia beri judul instalasi seni APD-nya, "Wernane Manungso". Kira-kira, ia hendak mengatakan tentang betapa banyak ragam warna perlindungan untuk manusia bertahan menghadapi segala tantangan.

Dua mahasiswi, Ariesta Putri Rubyatomo dan Nani Nurhayati, menyajikan performa seni berjudul  Rootedness. Karya mereka berupa pentas melukisi APD dengan bahan-bahan alam yang bisa diolah untuk pewarnaan. Karya itu seakan hendak mengatakan tentang betapa disayangkan jika personalitas kehilangan lanskap keberakarannya.

Karya performa berjudul "Tandaning Mangsa" disajikan Valentina Ambarwati dan Andi Ryan Kusuma. Mereka juga melukisi APD menggunakan bahan-bahan alam untuk pewarnaan. Mereka memainkan performanya secara singkat juga dengan latar belakang instalasi seni "Wernane Menungso".

Setelah Singgih Al Jawi, seorang pegiat Komunitas Lima Gunung rampung berpidato pendek di sesi tengah kuliah-pementasan, tiga mahasiswa, Alif, Aninda, dan Siti, menyajikan tema bunga-bungaan dalam performa berjudul "Rupa Bernas", berupa melukisi APD diiringi Sapek, alat musik dari Kalimantan.

"Belum tentu yang kita lihat semula itu intinya. Sebenarnya ketika kita men-'treatment' sesuatu itu, jadi terlihat lebih ke intinya," kata Aninda menjelaskan karya "Rupa Bernas" usai pementasan.

Pemakaian alat pelindung diri dari penularan pandemi virus, nampaknya mereka tangkap sebagai tak sebatas bagian dari cara dan upaya manusia menjaga kesehatan tubuh.

Namun, APD itu mengalirkan kesadaran bahwa manusia memiliki kedudukan penting untuk hidup dan melanjutkan kodrat kehidupan.

"Saat ini APD lambang manusia, dia memiliki kedudukan tetapi lupa bersyukur," ucapnya.

Baca juga: Mat-matan menyuarakan makna bisikan candi-candi

Baca juga: Lima pelukis pameran "Candi-Candi Berbisik" di Studio Mendut


Menyesuaikan diri

Melalui karya masing-masing, mereka merespons pembukaan kuliah Tanto Mendut. Persoalan manusia menjaga kesehatan di tengah pandemi bukan dengan cemas dan menyerah, atau bahkan abai atas situasi penularan virus mematikan, tetapi mesti "manjing ing kahanan", menyesuaikan diri dan menjiwai keadaan.

Peristiwa pandemi memang seharusnya mampu diterjemahkan manusia untuk kreatif dalam mencapai jalan kehidupan di segala aspek.

Berbagai kalangan mengakui bahwa pandemi setahun terakhir ini menghadirkan perubahan cara manusia hidup dan berkehidupan.

Segala perubahan itu, seperti halnya dalam bersilaturahim dan audiensi, rapat pejabat dan kegiatan pendidikan formal, konferensi pers, transaksi, pentas seni dan melestarikan tradisi budaya, pesta demokrasi, berwisata dan bertransportasi umum, pelayanan publik, serta menjalani urusan dengan hukum.

"Kalau bisa ya sehat secara protokol kesehatan, tapi juga kreatif, 'manjing ing kahanan'. Untuk saya sehat dan artistik. Ini juga soal dimensi lanskap, cara memandang kita terhadap lingkungan," ujar Tanto.

Dalam acara virtual "Kafe Keroncong Bank Jateng", Selasa (9/3) malam, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga mengemukakan soal kreativitas dan pencarian cara agar manusia tetap berkarya serta produktif, baik karena terdampak pandemi maupun menyikapi situasi penularan virus corona jenis baru itu.

Dicontohkan dia tentang industri tekstil yang mengembangkan produksi sesuai pangsa pasar fesyen --termasuk produk pakaian yang antibakteri dan virus--. Selain itu, usaha minuman yang mengembangkan aneka produk melalui sentuhan budaya masyarakat mengonsumsi rempah-rempah karena berguna bagi imunitas tubuh.

Begitu juga tentang pementasan kesenian yang dikelola semakin baik dan sesuai dengan keadaan pandemi agar tetap mendatangkan penghargaan dan apresiasi atas karya senimannya, baik dengan pola penjualan tiket, lelang barang, maupun sponsor.

"'Jenenge' pandemi yo kudu kreatif. Namanya juga ikhtiar, kita bisa melakukan sesuatu," ucapnya sembari menyelipkan tentang program vaksinasi COVID-19 yang sedang digerakkan pemerintah untuk menjangkau seluruh kalangan masyarakat.

Dalam Buku "100 Bencana Terbesar Sepanjang Masa", Stephen J. Spignesi menuliskan bahwa waktu itu ada sosialisasi pembuatan masker pelindung wajah yang didorong pemerintah untuk menghadapi epidemi influenza (1918-1919) atau dikenal sebagai Flu Spanyol.

Sosialisasi pembuatan masker melalui poster-poster tentu juga suatu kreativitas tersendiri pada zamannya, sebagaimana banyak ragam masker dan sentuhan kreativitas muncul saat pandemi COVID-19 abad ini. Masker sesungguhnya juga APD.

Segala aktivitas yang bisa terus dikerjakan manusia dalam situasi sulit sebagaimana pandemi sekarang ini, bagian dari wujud budaya kreatif.

Kreativitas bukan hanya domain kalangan tertentu, namun setiap insan yang berkehendak tak menyerah terhadap tekanan segala keadaan.

Memang, tak ada jalan buntu bagi energi kreatif.

Baca juga: Normal baru agar tubuh tak runtuh

Baca juga: Seniman Tjipto Boedojo sajikan tarian topeng di Studio Mendut

 

Oleh M. Hari Atmoko
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar