Sastrawan sarankan kaji ulang konsep keragaman di dalam TMII

Sastrawan sarankan kaji ulang konsep keragaman di dalam TMII

Pengunjung menaiki sepeda di kompleks Keong Mas di TMII, Jakarta, Rabu (7/4/2021). Pemerintah melalui Kemensetneg mengambil alih pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dari Yayasan Harapan Kita. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/aww.

pemerintah harus memahami bahwa investasi pada kebudayaan berbeda dengan investasi terhadap benda yang secara langsung dapat memberi kontribusi pada keuangan negara
Jakarta (ANTARA) - Sastrawan Esha Tegar Putra menyarankan pemerintah melakukan kaji ulang terhadap konsep keragaman Taman Mini Indonesia Indah (TMII), terutama jika tempat tersebut diwacanakan sebagai taman budaya (culture theme park) dengan standar internasional.

Hal itu menyusul terbitnya Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Atas Perpres tersebut, pengelolaan TMII dilakukan oleh Kementerian Sekretariat Negara, bukan lagi oleh Yayasan Harapan Kita.

Baca juga: Moeldoko pastikan transisi pengelolaan TMII berjalan transparan

"Sebetulnya sejauh ini TMII hanya menjadi ikon dari keragaman budaya, namun tidak sepenuhnya menunjukkan keragaman, karena ada bagian dari Indonesia yang hilang melalui bangunan situs dan program-program yang ada di sana," kata Esha di Jakarta, Rabu.

Penyair tersebut menilai konsep ke-Indonesia-an harus dikaji ulang secara bersama, terutama soal keragaman jika memang pemerintah ingin memperlihatkan keragaman dan toleransi Indonesia melalui TMII ke depan.

Baca juga: Ombudsman usulkan Setneg bentuk badan kelola TMII secara profesional

Ia mengatakan pemerintah harus memahami bahwa investasi pada kebudayaan berbeda dengan investasi terhadap benda yang secara langsung dapat memberi kontribusi pada keuangan negara.

Menurut Esha, investasi kebudayaan merupakan penanaman nilai-nilai kebaikan dan rasa berkebangsaan. Hasilnya tentu saja menjadikan manusia Indonesia lebih baik, paham akan keragaman, menghargai bahwa Indonesia multikultur.

Oleh karenanya, pemerintah perlu melibatkan budayawan dan seniman sehingga konsep TMII dapat dikaji ulang secara bersama.

Sementara itu, seniman Jumaldi Alfi berharap TMII dapat memberikan peluang dengan mendirikan infrastruktur, bangunan yang representatif dan pengelolaan yang profesional.

Baca juga: Kemensetneg serap aspirasi publik terkait pengelolaan TMII

"Saya berharap di sana ada sebuah museum yang layak untuk menampung karya-karya seni anak bangsa. Sudah seharusnyalah Indonesia mempunyai museum seni rupa," kata dia.

Dalam kancah seni rupa internasional, seniman-seniman Indonesia dinilai telah memberi warna dengan capaian-capaian yang artistik, estetika dan konseptual.

Terbukti pada berbagai perhelatan seni rupa dunia, seperti bienalle, trienalle, seniman Indonesia termasuk penampil yang dinantikan kehadiran karya-karyanya.
 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kilas NusAntara Pagi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar