Waspada, Analis: Imbal hasil obligasi AS masih berpotensi naik

Waspada, Analis: Imbal hasil obligasi AS masih berpotensi naik

Ilustrasi: Percetakan dolar di Washington DC, Amerika Serikat(Photo by Eva HAMBACH / AFP) (AFP/EVA HAMBACH)

Dalam pandangan kami kenaikan imbal hasil obligasi AS saat ini mencerminkan ekspektasi pasar yang lebih positif terhadap pertumbuhan ekonomi
Jakarta (ANTARA) - Senior Portfolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Samuel Kesuma menilai imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) masih berpotensi naik namun pergerakannya relatif terbatas.

"Ke depannya imbal hasil obligasi AS masih dapat bergerak naik seiring dengan ekonomi AS yang membaik. Namun kami memandang kenaikannya akan lebih terbatas dan gradual," ujar Samuel melalui keterangan di Jakarta, Rabu.

Terbatasnya kenaikan imbal hasil obligasi AS, lanjut Samuel, dipengaruhi sejumlah faktor salah satunya yaitu wacana kenaikan pajak yang akan diajukan Presiden Joe Biden.

Faktor berikutnya yaitu laju pemulihan yang cenderung lebih lambat dari ekspektasi seiring dengan risiko gelombang ketiga COVID-19 di beberapa kawasan. Terakhir adalah potensi meningkatnya pembelian obligasi AS oleh investor global seiring dengan imbal hasilnya yang telah naik ke level atraktif.

Baca juga: Amerika Serikat pertimbangkan penerbitan obligasi 50 tahun

"Kenaikan imbal hasil obligasi AS yang lebih gradual akan mengurangi kekhawatiran pasar dan dapat mengembalikan sentimen investor global," kata Samuel.

Menurut dia, tingkat imbal hasil obligasi AS saat ini yang di kisaran 1,7 persen pun sebetulnya masih relatif rendah, karena dalam 10 tahun ke belakang rata-rata imbal hasil obligasi AS di kisaran 2 persen, sehingga level obligasi AS saat ini masih pada level yang wajar dan tetap suportif bagi pasar finansial.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja negatif yaitu minus 4,11 persen pada Maret.  Samuel menilai sentimen pasar dibayangi oleh kekhawatiran inflasi akan melonjak di AS karena proses vaksinasi yang berjalan baik dan adanya stimulus besar dari Presiden Joe Biden dapat mempercepat pemulihan ekonomi.

Seiring dengan inflasi yang meningkat maka dikhawatirkan The Fed juga akan ikut lebih cepat melakukan pengetatan kebijakan moneter untuk memitigasi lonjakan inflasi.

Baca juga: Kenaikan imbal hasil obligasi dorong Wall Street berakhir lemah

Sentimen tersebut tercermin dari melonjaknya imbal hasil obligasi AS yang naik dari kisaran 0,9 persen pada akhir 2020 ke kisaran 1,7 persen pada akhir Maret 2021.

Obligasi AS merupakan instrumen penting dalam pasar finansial global karena digunakan sebagai acuan aset bebas risiko (risk-free) dan menjadi salah satu metrik acuan untuk berbagai instrumen finansial lain secara global.

Imbal hasil obligasi AS juga dapat mengindikasikan ekspektasi pasar terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan moneter The Fed. Oleh karena itu melonjaknya imbal hasil obligasi AS menyebabkan ketidakpastian dan volatilitas di pasar finansial global.

"Dalam pandangan kami kenaikan imbal hasil obligasi AS saat ini mencerminkan ekspektasi pasar yang lebih positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Kami tidak melihat ancaman lonjakan inflasi dapat terjadi berkepanjangan di AS yang akan memaksa The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneter," ujar Samuel.

Baca juga: The Fed putuskan tahan suku bunga di tengah sinyal ekonomi beragam

 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Bank Indonesia waspadai kenaikan imbal hasil obligasi AS

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar