Penyusutan hasil panen masih jadi masalah penggilingan padi kecil

Penyusutan hasil panen masih jadi masalah penggilingan padi kecil

Sejumlah pekerja menjemur gabah di penggilingan padi Desa Banjararum, Kecamatan Sukodadi, Lamongan, Jawa Timur, Jumat (19/12/2008), FOTO ANTARA/Syaiful Arif/ss/nz/aa. (ANTARA/SYAIFUL ARIF)

penyusutan paling tinggi terjadi pada proses penjemuran dan penggilingan padi.
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan bahwa penyusutan hasil panen padi masih cukup tinggi pada penggilingan padi di petani kecil yang memperkecil nilai produktivitas.

Sutarto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu, mengatakan bahwa penyusutan paling tinggi terjadi pada proses penjemuran dan penggilingan padi.

Kualitas gabah cenderung rendah pada saat panen raya yang sebelumnya didukung oleh curah hujan tinggi di musim hujan karena memiliki kadar air yang tinggi. "Namun dengan kapasitas mesin pengering (dryer) yang ada sangat terbatas, pada umumnya hanya dimiliki oleh penggilingan padi besar (PPB) dan sebagian penggilingan padi menengah (PPM). Penggilingan padi kecil (PPK) umumnya memanfaatkan lantai jemur, sementara itu pemanfaatan lantai jemur pada musim hujan tidak berfungsi optimal," kata Sutarto.

Baca juga: Perpadi dorong pemerintah intensifkan penyerapan beras dalam negeri

Sutarto menambahkan kapasitas penggilingan padi saat ini jauh melebihi produksi gabah yaitu 182.199 unit, sehingga melebihi produksi gabah nasional atau over kapasitas sekitar 70 persen. Sebagian besar atau 94 persen di antaranya merupakan Penggilingan Padi Kecil (PPK) dengan konfigurasi mesin dan cara kerja yang kurang baik.

Penggilingan padi kecil tersebut pada umumnya memiliki keterbatasan manajemen, teknologi, peralatan, akses permodalan atau tidak bankable, dan tidak memiliki akses pasar termasuk akses ke pemerintah atua Bulog sehingga tidak beroperasi secara optimal.

Sementara itu rendemen atau persentase dari berat beras yang dihasilkan dari penggilingan gabah atau padi yang digiling masih rendah yaitu rata-rata 62,28 persen. "Seharusnya dapat dicapai minimal 67 persen," kata Sutarto.

Sebagai perbandingan, rendemen di negara lain seperti Thailand 69,7 persen dan Vietnam 66,6 persen.

Baca juga: BMKG sebut musim tanam kedua butuh penanganan khusus karena kemarau

Selain itu Sutarto juga menyebut kualitas beras yang dihasilkan masih rendah dengan tingkat broken diatas 25 persen dan tidak seragam. Kehilangan hasil panen di PPK masih cukup tinggi yaitu sekitar 2,8 persen hingga 3,25 persen.

Menurut Sutarto permasalahan perberasan tidak pernah akan selesai jika pemerintah tidak pernah menyelesaikan persoalan di penggilingan padi. Dia menyebut perlunya revitalisasi penggilingan padi kecil yang jumlahnya 94 persen dari total penggilingan padi yang ada.

"Itulah yang diharapkan sebagai pemasok beras baik untuk cadangan pangan pemerintah (CPB) maupun pangan untuk masyarakat. Revitalisasi ini, perlu ada mesin pengering dan penggantian dan penambahan peralatan yang modern untuk penggilingan padi kecil. Dengan kredit yang mudah dan murah. Bila perlu disubsidi oleh pemerintah," kata Sutarto.

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mempersiapkan Solok Selatan sebagai lumbung padi organik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar