BKKBN: Cegah stunting untuk songsong bonus demografi

BKKBN: Cegah stunting untuk songsong bonus demografi

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo dalam konferensi pers bertajuk "Smart Sharing: Program Kerja Sama Penurunan Angka Stunting di Indonesia" di Jakarta, Selasa (4/5/2021). ANTARA/ Zubi Mahrofi.

Stunting ini penting karena kita akan masuk dalam era bonus demografi. Stunting harus ditekan dari hulu ke hilir mulai dari program edukasi hingga intervensi gizi untuk mencegah anak gagal tumbuh
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyatakan bahwa pencegahan stunting (kekerdilan anak) penting bagi Indonesia untuk menyongsong era bonus demografi.

"Stunting ini penting karena kita akan masuk dalam era bonus demografi. Stunting harus ditekan dari hulu ke hilir mulai dari program edukasi hingga intervensi gizi untuk mencegah anak gagal tumbuh," katanya dalam konferensi pers bertajuk "Smart Sharing: Program Kerja Sama
Penurunan Angka Stunting di Indonesia" di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, program edukasi penting agar anak tidak salah gizi. Selain itu, harus diperhatikan juga adalah pengamatan terhadap kondisi gizi anak.

Ia mengatakan pandemi telah mengakibatkan kegiatan posyandu di banyak daerah terhenti, padahal selama ini Posyandu berperan besar sebagai langkah awal pengawasan gizi anak.

"Kami berharap kolaborasi berbagai pihak menjadi cara alternatif agar gizi dan kesehatan anak di Indonesia terpantau," katanya.

Ia menyatakan komitmennya untuk serius menangani stunting. Dalam lima tahun terakhir angka stunting di Indonesia telah mengalami perbaikan.

DIsebutkannya bahwa jumlah kasus stunting di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 27,67 persen. Angka itu berhasil ditekan dari 37,8 persen pada tahun 2013.

"Namun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal stunting yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu kurang dari 20 persen," katanya.

Bahkan, lanjut dia, hingga akhir tahun 2020, status Indonesia masih berada di urutan empat dunia dan urutan kedua di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting.

Ia menyatakan Presiden Joko Widodo pada Januari 2021 lalu menargetkan pada tahun 2024 kasus stunting di Indonesia bisa ditekan hingga berada di angka 14 persen dan angka kematian ibu bisa ditekan hingga di bawah 183 kasus per 100.000 ibu melahirkan.

Dalam rangka mencegah stunting, kata Hasto Wardoyo, BKKBN bekerja sama dengan KALBE Nutritionals dan Klikdokter melakukan percepatan penanganan kejadian stunting di Indonesia.

Group Business Unit Head Woman Nutrition Kalbe Nutritionals, Sinteisa Sunarjo menyampaikan kepeduliannya terhadap penanganan stunting di Indonesia.

"Mengingat kompleksitas masalah stunting di Indonesia, dibutuhkan sinergi semua pihak untuk mengatasi stunting. Terkait fakta kasus stunting tersebut, Prenagen bersama-sama dengan Klikdokter ingin berkontribusi dan mendukung pemerintah melalui kerja sama dengan BKKBN," katanya.

Baca juga: COVID-19 dikhawatirkan BKKBN berdampak lahirkan SDM kurang berkualitas

Baca juga: CIPS: malnutrisi ganda ancaman bonus demografi Indonesia

Baca juga: Kepala BKKBN: Bonus demografi hadapi tantangan serius

Baca juga: Bappenas: stunting bisa akibatkan bonus demografi sia-sia


Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Peluncuran Pendataan Keluarga di Jambi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar