Tiga pendekatan Kemenperin pacu substitusi impor 35 persen sektor IKFT

Tiga pendekatan Kemenperin pacu substitusi impor 35 persen sektor IKFT

“Substitusi impor ini diharapkan tidak hanya memacu peningkatan konsumsi bahan baku dan bahan penolong lokal, namun juga memacu industri nasional dalam mengisi kekosongan pada struktur industri yang selama ini diisi dengan cara impor,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam di Jakarta, Kamis (6/5/2021). ANTARA/HO-Kemenperin/pri.

Sektor IKFT mampu memberikan kontribusi besar terhadap kebijakan substitusi impor tersebut
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian mencanangkan strategi guna mewujudkan substitusi impor sebesar 35 persen di sektor industri kimia, farmasi dan tekstil (IKFT) yakni penurunan impor bahan baku dan bahan penolong, serta barang jadi dari produk hilir yang secara paralel dilakukan dengan tiga pendekatan dan disinergikan dengan pemangku kepentingan terkait.

"Namun, perlu mendapatkan perhatian adalah penurunan impor bahan baku dan bahan penolong ini seyogyanya tidak menghambat produksi, terutama bagi produk hulu atau setengah jadi yang menjadi input oleh industri turunan atau hilir," kata Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam lewat keterangannya di Jakarta, Kamis.

Adapun tiga pendekatan yang bisa dilakukan dalam kebijakan substitusi impor adalah perluasan industri untuk peningkatan produksi bahan baku dan bahan penolong sebagai input industri turunan.

Pendekatan ini lebih ditujukan kepada produsen bahan baku eksisting untuk memperluas volume produksi dan kemampuan pasokan dalam negeri.

Baca juga: Menperin optimistis penghematan impor sebesar Rp152 triliun tercapai

Kedua, investasi baru yang ditujukan ditujukan bagi para industri untuk menangkap peluang atas besarnya impor bahan baku dan bahan penolong melalui produksi bahan baku dan bahan penolong di dalam negeri.

Ketiga adalah dengan peningkatan utilisasi industri. Pendekatan ini merupakan salah satu outcome yang diharapkan dapat meningkatkan utilisasi industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan bahan penolong.

"Kebijakan substitusi impor tidak bisa dicapai hanya dengan mengurangi impor saja, sehingga ketiga pendekatan tersebut menjadi penting dan prioritas dalam mencapai target substitusi impor sebesar 35 persen di tahun 2022," jelas Khayam.

Menurutnya, sektor IKFT mampu memberikan kontribusi besar terhadap kebijakan substitusi impor tersebut.

Potensi ini salah satunya ditunjukkan dari kinerja gemilang industri farmasi, obat kimia dan obat tradisional serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yang pertumbuhannya pada 2020 sebesar 9,39 persen (yoy).

"Sementara itu, kontribusi sektor industri kimia, farmasi dan tekstil sebesar 4,48 persen, dengan kontribusi terbesar adalah di industri kimia, farmasi dan obat sebesar 1,92 persen," ungkapnya.

Sepanjang 2020, perkembangan ekspor sektor IKFT sebesar 33,99 miliar dolar AS, dengan surplus 89 juta dolar AS.

"Sumbangan ekspor terbesar dari industri pakaian jadi dan tekstil, dengan nilai 10,63 miliar dolar AS," sebut Khayam.

Berikutnya, realisasi investasi tahun lalu di sektor IKFT menembus Rp61,97 triliun, yang didominasi oleh industri kimia dan bahan kimia.

"Sedangkan tenaga kerja yang bisa diserap sebesar 6,24 juta orang, di mana penyerapan terbesar di industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 3,43 juta orang," imbuhnya.

Baca juga: Kemenperin: Aturan TKDN ponsel turunkan impor dan tingkatkan produksi
Baca juga: Tekan impor, Kemenperin pacu produk logam ber-SNI


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Disperindag Jateng dorong subtitusi impor bawang putih

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar