Surabaya (ANTARA News) - Nahdlatul Ulama (NU) dibawah kepemimpinan Said Aqiel Siradj mulai membuka diri terhadap partai politik yang ingin mengajaknya bekerjasama di bidang sosial dan keagamaan.

"Dalam lima tahun kepemimpinan saya ke depan, NU akan terbuka pada siapa pun," kata Said Aqiel Siradj saat menghadiri Mubes VII Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) di Surabaya, Senin malam.

Menurutnya, tidak hanya parpol, NU juga akan membuka diri pada birokrat, lembaga swadaya masyarakat, insan pers, nelayan, petani, dan ormas, seperti MKGR.

"Kami ingin bermitra tanpa harus berkoalisi. Kalau ada yang salah, kami akan mengkritik tanpa harus beroposisi. Semua ini demi bangsa dan negara ini," kata Said.

Organisasi "jam`iyyah" yang berdiri sejak 1926 itu, lanjut dia, adalah untuk membangun bangsa dan negara ini, apalagi dari seluruh warga miskin di Indonesia, 44 persen di antaranya nahdiyin.

"Oleh sebab itu, kami menganggap kerja sama dengan semua pihak merupakan bagian dari `Khittah 1926` yang diamanatkan kepada kami," katanya.

Said disambut baik oleh Ketua Umum MKGR Priyo Budi Santoso. "Kerja sama dengan NU akan kami konkretkan sampai ke tingkat akar rumput," katanya.

Menurutnya, misi MKGR dan NU sama-sama fokus pada pengentasan masyarakat miskin. "Oleh sebab itu, kerja sama dengan NU akan kami jalin lebih erat lagi," kata Wakil Ketua DPP Partai Golkar itu.

Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie yang hadir dalam pembukaan mubes itu menyatakan dukungannya kerjasama Partai Golkar dengan NU itu.(*)

M038/Z002/AR09

Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010