"Funiculi Funicula", soal pengalaman kunjungi masa lalu di kedai kopi

"Funiculi Funicula", soal pengalaman kunjungi masa lalu di kedai kopi

Gambar sampul novel "Funiculi Funicula" karya Toshikazu Kawaguchi (ANTARA/Gramedia)

Jakarta (ANTARA) - Novel "Funiculi Funicula" karya Toshikazu Kawaguchi menjadi salah satu karya literatur Jepang yang bisa Anda baca pada Mei ini.

Novel yang mengambil tema perjalanan waktu ini menawarkan imajinasi yang berbeda untuk mereka yang bermimpi bisa berkunjung ke masa lalu maupun masa depan.

"Toshikazu Kawaguchi menjadikan imajinasi mengenai pelesir waktu menjadi sebuah pertunjukan teater, yang kemudian dialihwahana menjadi novel. Alih-alih meramu cerita petualangan yang tipikal fiksi ilmiah, ia justru menulis rangkaian kisah yang lebih humanis, menggunakan latar sebuah kafe tua di Jepang dan pengalaman emosional orang-orang di dalamnya" ujar Editor Bidang Fiksi Gramedia Pustaka Utama, Kartika Eka Nurinindita dalam siaran persnya, ditulis Selasa.

Baca juga: Sooyoung Girls' Generation akan main film adaptasi novel Jepang

Ini menjadi novel pertama Toshikazu Kawaguchi yang diadaptasi dari pertunjukan teater garapannya bersama 1110 Productions. Pertunjukan ini memenangkan penghargaan utama dalam Festival Teater Suginami Kesepuluh.

Kisahnya tentang empat orang berbeda yang mencoba tawaran menjelajah waktu di kafe tua bernama Funiculi Funicula yang berada di sebuah gang kecil kota Tokyo. Walaupun terdengar menarik, tetapi tidak banyak yang mau mencoba tawaran tidak lazim ini karena peraturannya yang tidak mudah.

Pertama, pengunjung harus duduk di kursi tertentu. Kedua, tidak boleh meninggalkan tempat duduk sampai perjalanan waktunya selesai. Ketiga, harus kembali sebelum kopi mendingin. Jika tidak dipatuhi mereka akan mendapatkan konsekuensi yang menyedihkan.

Keajaiban kafe itu pada akhirnya menarik seorang wanita yang ingin memutar waktu untuk berbaikan dengan kekasihnya, seorang perawat yang ingin membaca surat yang tak sempat diberikan suaminya yang sakit, seorang kakak yang ingin menemui adiknya untuk terakhir kali, dan seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak yang mungkin takkan pernah dikenalnya.

"Ceritanya kemudian menjadi emosional karena kita diajak bertemu empat orang yang rela mengambil risiko dari peraturan yang ada. Mengenal seorang perempuan yang mau menemui kekasihnya sebelum pergi ke luar negeri, istri penderita Alzheimer, kakak yang tidak ingin kehilangan adiknya, serta ibu yang belum pernah bertemu anaknya. Toshikazu Kawaguchi mampu merangkai alur cerita dengan menarik,” kata Nindy.

"Funicula Funicula" menambah daftar judul AsianLit yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU), setelah novel "Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982" pada akhir 2019. Tahun ini rencananya ada 20 judul AsianLit GPU yang siap terbit.

Baca juga: Menkominfo apresiasi novel grafis karya Agnez Mo

Baca juga: Novel "Pocinta" peroleh apresiasi dari dalam dan luar negeri

Baca juga: Novel laris Wattpad "The Other Side" diadaptasi jadi film

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar