Jakarta (ANTARA News)- Sebuah perusahaan produsen piranti lunak, Face.com, sedang mengembangkan program revolusioner yang bisa mengidentifikasi wajah orang dari foto yang diunggah ke internet.

Seperti yang diwartakan Sunday Times, Minggu (22/8), program itu bekerja dengan cara membandingkan foto-foto seseorang dari situs jejaring sosial atau galeri online.

Artinya, profil seseorang bisa dibangun hanya dari foto online. Para pengamat mengatakan hal itu bisa dimanfaatkan oleh para majikan untuk mengontrol pekerja mereka.

Piranti lunak itu pada dasarnya menghasilkan algoritma dari wajah, ukuran dari susunan fitur-fitur seperti telinga, hidung, dan mulut.

Perusahaan itu memastikan program mereka punya ketepatan mencapai 90 persen jika digunakan untuk memindai foto-foto wajah yang biasa ditemukan di internet.

Akan tetapi Face.com sebelumnya telah membatasi ketersediaan piranti lunaknya itu karena takut dianggap melanggar privasi.

Meski membatasi ketersediaan piranti andalannya itu, Face.com juga meluncurkan 'Photo Finder', sebuah program yang memudahkan pencarian orang di internet.

"Kami telah meluncurkan sebuah layanan bagi para pengembang yang ingin mengambil teknologi pengenal wajah kami dan menerapkannya ke aplikasi mereka," kata Gil Hirsch, kepala eksekutif Face.com.

"Teknologi itu telah digunakan oleh 5000 pengembang. Anda pada dasarnya bisa mencari siapa saja dalam foto apa saja di internet," sambung Hirsch kemudian.

"Anda bisa mencari anggota keluarga di Flickr, di surat khabar, atau dalam video You Tube misalnya, meski harus banyak menguras 'processing power'," papar Hirsch.

Untuk sementara teknologi pelacakan wajah baru digunakan di otoritas perbatasan Inggris (UK Border Agency).

Google sebagai mesin pencari terbesar di dunia mempunyai Picasa, program yang digunakan untuk mengorganisasi foto dengan cara 'tagging' wajah yang sama pada foto atau pada Facebook menggunakan Photo Finder.

Beberapa organisasi seperti Palang Merah mendukung piranti lunak itu karena bisa digunakan untuk melacak orang yang hilang dalam suatu bencana.

Meski demikian, banyak yang khawatir dengan teknologi itu terkait dampaknya pada privasi dan akurasi datanya.
(Ber/A038/BRT)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010