Dolar menguat terhadap yen di Asia, inflasi AS kalahkan ekspektasi

Dolar menguat terhadap yen di Asia, inflasi AS kalahkan ekspektasi

10.000 Yen Jepang dan Uang Kertas 100 dolar. ANTARA/Shutterstock/pri.

Tokyo (ANTARA) - Dolar bertahan di dekat level tertinggi dua bulan terhadap yen di perdagangan Asia pada Senin pagi, setelah ukuran utama inflasi AS menunjukkan kenaikan harga-harga yang lebih kuat dari yang diperkirakan, menjaga ekspektasi kemungkinan tentang tapering dalam pembelian aset Federal Reserve.

Dolar diperdagangkan pada 109,87 yen, setelah mencapai 110,20 pada Jumat (28/5/2021), berada dalam jarak yang sangat dekat dari puncak satu tahun di 110,97 yang dicapai pada akhir Maret.

Data inflasi AS juga mendorong greenback lebih tinggi terhadap mata uang lain untuk sementara, meskipun mata uang tersebut kehabisan tenaga menjelang libur akhir pekan yang panjang di New York dan London.

Euro berpindah tangan pada 1,2194 dolar AS, turun dari terendah pada Jumat (28/5/2021) di 1,2133 dolar AS, sementara pound Inggris sedikit berubah pada 1,4189 dolar AS.

Harga-harga konsumen AS melonjak pada April, dengan ukuran inflasi yang mendasari melampaui target 2,0 persen Federal Reserve dan membukukan kenaikan tahunan terbesar sejak 1992, karena pemulihan dari pandemi dan berbagai gangguan pasokan.


Baca juga: Dolar hapus keuntungan minggu ini ketika pasar mencerna data ekonomi


Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti, ukuran inflasi yang disukai Federal Reserve, naik 3,1 persen dari setahun lalu, sedikit di atas ekspektasi pasar untuk kenaikan 2,9 persen.

Meskipun angka tinggi sebagian disebabkan oleh dampak dasar - harga tertekan pada April 2020 karena penguncian yang ketat - dan kenaikan tahunan diperkirakan akan moderat akhir tahun ini, beberapa investor tetap gelisah.

“Jika kita melihat inflasi secara konsisten mencapai di atas 2,0 persen, itu dapat memberikan tekanan pada upah. Ada risiko inflasi cenderung lebih tinggi dari yang diperkirakan," kata Masafumi Yamamoto, kepala strategi mata uang di Mizuho Securities.

Untuk saat ini, data memiliki dampak terbatas atas ekspektasi investor bahwa Federal Reserve akan mempertahankan laju pembelian aset saat ini selama berbulan-bulan, mungkin pada akhir tahun, sebelum melakukan tapering.

Imbal hasil surat utang AS turun dalam sesi yang dipersingkat pada Jumat (28/5/2021) sebelum libur akhir pekan yang panjang ketika pembelian akhir bulan dibanjiri data.

Baca juga: Indeks dolar jatuh dengan keuntungan dan kerugian pada mata uang utama


Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun turun 2,9 basis poin menjadi 1,581 persen, menandai penurunan bulan kedua berturut-turut setelah meningkat tajam awal tahun ini di tengah kekhawatiran tentang inflasi.

Tetapi dengan pejabat utama Fed sekarang secara terbuka mengakui perlunya membahas tapering, tanda-tanda lebih lanjut dari kekuatan dalam ekonomi AS, seperti data penggajian pada Jumat (4/6/2021), dapat memicu perdebatan tentang tapering, kata para analis.

Di tempat lain, yuan China bertahan kuat di dekat level tertinggi tiga tahun di 6,3590 per dolar yang dicapai pada Jumat (28/5/2021), diperdagangkan pada 6,3655 dalam perdagangan luar negeri.

Sebuah survei tentang sektor manufaktur China yang akan dirilis pada Senin waktu setempat adalah fokus terbesar berikutnya.

Di pasar mata uang kripto yang mudah berubah, Bitcoin sedikit berubah selama akhir pekan menjadi diperdagangkan pada 35.864 dolar AS setelah sempat mencapai level terendah satu minggu di 33.425 dolar AS, sementara Ether berdiri di 2.407 dolar AS.

Sejauh bulan ini, Bitcoin telah merosot 38 persen, yang akan menjadi penarikan terbesar sejak 2011 sementara Ether telah kehilangan 13 persen.


Baca juga: Dolar AS berbalik naik, yen tergelincir karena prospek ekonomi berbeda

Baca juga: Penurunan dolar AS berlanjut, reli yuan dapat perhatian

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menguatnya kurs dolar tak pengaruhi daya beli masyarakat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar