Jakarta (ANTARA News) - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menilai pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyikapi hubungan Indonesia-Malaysia semakin menguatkan ketidakperluan pengajuan hak interpelasi.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP PPP M Romahurmuziy di Jakarta, Rabu malam, mengatakan, pidato Presiden sudah menjawab pola diplomasi pemerintah sebagai pencerminan politik luar negeri yang bebas aktif.

"Jawaban Presiden menguatkan pendapat PPP bahwa interpelasi tidak perlu diajukan," katanya.

Dalam pidatonya yang disampaikan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Rabu malam, Presiden Yudhoyono menekankan pentingnya pengutamaan diplomasi dengan Malaysia.

Menurut Sekretaris Fraksi PPP yang akrab disapa Romy itu, pidato Presiden juga menciptakan iklim yang sejuk, solutif, dan mengedepankan hasil ketimbang cara.

"Isi pidato adalah pengutamaan diplomasi ketimbang perang. Ini sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menjunjung tinggi perdamaian dunia," ujarnya.

Sebelumnya, Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana juga menilai, pidato Presiden Yudhoyono yang mendahulukan diplomasi dengan Malaysia merupakan langkah tepat.

"Kalau perang, kita semua bakal menderita," katanya.

Menurut Sutan, Indonesia dan Malaysia telah berencana bertemu guna membahas permasalahan perbatasan antarkedua negara di Kota Kinabalu, Malaysia pada 6-9 September 2010.

"Kita tunggu saja hasilnya. Saya percaya melalui diplomasi, permasalahan akan selesai. Sebab, kedua negara saling membutuhkan," ujarnya.

Ia juga percaya, sebagian besar rakyat Indonesia tidak menginginkan perang sebagai jalan menyelesaikan persoalan dengan Malaysia.

Kalaupun pada akhirnya, Indonesia bisa menguasai Malaysia melalui jalan perang, menurut dia, maka Indonesia bakal dikucilkan semua negara seperti halnya Irak saat menginvasi Kuwait.

"Mari kita melihat segala persoalan dengan jernih. Jangan hanya mendahulukan nasionalisme yang sempit," katanya.

Sutan melanjutkan, Indonesia dan Malaysia merupakan negara bersahabat sejak puluhan tahun lalu.

"Kita masuk dalam wadah ASEAN yang mengedepankan semangat kekeluargaan dan kebersamaan. Karenanya, penting mendahulukan perundingan dalam menyelesaikan setiap persoalan," katanya.

Apalagi, lanjutnya, Indonesia dan Malaysia memiliki banyak kesamaan dari warna kulit, bahasa, hingga budaya.

Hubungan Indonesia dan Malaysia tengah diuji menyusul penangkapan tiga petugas Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Riau oleh aparat kepolisian Diraja Malaysia.

Penangkapan tersebut memicu aksi unjuk rasa di Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia di Jakarta.(*)

(T.K007/Z002/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010