Pembelajaran tatap muka terbatas serentak sulit dipaksakan

Pembelajaran tatap muka terbatas serentak sulit dipaksakan

Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim. ANTARA/Indriani/am.

sangat memahami ancaman "learning loss", meningkatnya angka putus sekolah, dan angka perkawinan usia sekolah di beberapa daerah dampak pembelajaran jarak jauh
Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai Pembelajaran Tatap Muka terbatas sulit dipaksakan secara serentak dikarenakan lambatnya vaksinasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan.

P2G sangat memahami ancaman "learning loss", meningkatnya angka putus sekolah, dan angka perkawinan usia sekolah di beberapa daerah sebagai dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama hampir 1,5 tahun yang belum efektif, yang akan berdampak panjang,

"Bahkan sangat berpotensi mengancam bonus demografi Indonesia, sebab ini menyangkut kualitas SDM Indonesia sekarang dan nanti,” ujar Koordinator Nasional P2G, Satriawan Salim di Jakarta, Jumat.

Dia menambahkan ada faktor risiko sangat besar, jika sekolah dipaksa dibuka serentak pertengahan Juli 2021 nanti. Mengingat angka COVID-19 di Tanah Air yang tinggi dan munculnya COVID-19 varian baru, serta angka positif yang berada diatas 10 persen di banyak daerah.

“Tentu opsi memaksa membuka sekolah akan mengancam nyawa, keselamatan, dan masa depan siswa termasuk guru dan keluarganya,” kata dia.

Satriwan menyebut ada dua indikator mutlak sekolah bisa dimulai tatap muka di awal Tahun Ajaran Baru Juli 2021 nanti, yaitu tuntasnya vaksinasi guru dan tenaga kependidikan, kemudian sekolah sudah memenuhi semua daftar periksa kesiapan sekolah tatap muka, yang berisi 11 item.

Baca juga: Uji coba pembelajaran tatap muka tahap II DKI mundur jadi Rabu (9/6)
Baca juga: Pemprov Kalteng sosialisasikan pedoman pembelajaran tata muka

Satriwan melanjutkan syarat pertama adalah tuntasnya vaksinasi guru. Adapun proses vaksinasi guru dan tenaga kependidik yang semula ditargetkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim rampung bulan Juni 2021 bagi 5,5 juta pendidik dan tendik, ternyata hingga awal Juni baru sekitar satu juta guru yang divaksinasi.

"Kami dari awal mendapatkan laporan dari jaringan P2G daerah, vaksinasi guru tendik memang lambat di daerah-daerah. Kami meminta kementerian terkait bergerak cepat,” ucapnya.

Kabid Advokasi P2G, Iman Z Haeri, berharap Kemendikbduristek konsisten dengan vaksinasi guru dan tenaga kependidikan, mengingat sudah divaksin saja masih ada potensi terpapar COVID-19.

Selain itu, jumlah sekolah yang mengisi daftar periksa kesiapan sekolah tatap muka baru hingga 4 Juni 2021, baru 54,36 persen. Daftar periksa berisi 11 item yang harus dipenuhi sekolah, seperti ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan, ketersediaan fasilitas kesehatan, pemetaan warga satuan pendidikan, misalnya yang memiliki komorbid.

P2G berharap desakan Mendikbudristek agar sekolah harus dibuka Juli 2021 tanpa tawar-menawar, hanya berlaku bagi sekolah yang vaksinasi gurunya rampung dan sudah diberikan asesmen kelayakan oleh Pemda untuk memulai PTM.

Hal itu dikarenakan fasilitas prokes penunjang sudah terpenuhi sedangkan bagi sekolah yang belum, maka opsi perpanjang PJJ adalah yang terbaik.
Baca juga: PTM terbatas bisa dilakukan walau guru belum divaksinasi
Baca juga: PTM akan pertimbangkan kondisi pandemi COVID-19 di tiap daerah


Pewarta: Indriani
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sekolah wajib penuhi syarat sebelum PTM terbatas

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar