"Generasi Terakhir" ingatkan peran Muslim menjaga alam dari krisis

"Generasi Terakhir" ingatkan peran Muslim menjaga alam dari krisis

Ketua Pusat Pengkajian Fachruddin M. Mangunjaya dalam peluncuran buku "Generasi Terakhir" di Jakarta, Rabu (9/6/2021). (Antara/Devi Nindy)

Banyak masjid tenggelam
Jakarta (ANTARA) - Ketua Pusat Pengkajian Fachruddin M. Mangunjaya dalam peluncuran bukunya "Generasi Terakhir" mengingatkan peran umat Muslim sebagai khilafah dalam menjaga alam dari krisis.

Fachruddin mengatakan dirinya tak hanya sekadar membicarakan aktivisme dalam memerangi krisis iklim dalam buku tersebut.

"Bukan hanya mengenai aktivisme dan upaya, tapi menjembatani sains dan Islam yang dikembangkan dari zaman Ibnu Sina," kata Fachruddin di Jakarta, Kamis.Baca

Dia mengatakan adanya krisis iklim yang diakibatkan manusia juga membuat simbol umat Islam seperti masjid terancam keberadaannya.

Misalnya masjid-masjid yang berada di pinggiran pantai dan berjarak dekat bibir pantai, kini air laut menjadi pasang dan bangunannya tidak dapat terpakai lagi.

"Banyak masjid tenggelam," kata dia.

Baca juga: Wahid Foundation arusutamakan Islam ramah lingkungan

Baca juga: Mitigasi krisis iklim akan efektif dengan skema "net zero emission"


Selain itu, krisis iklim juga membuat spesies flora dan fauna pupus dan menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem seperti di Uzbekistan, dimana laut menyusut.

Kemudian negara-negara dengan populasi Islam yang besar seperti Maladewa yang menerapkan kebijakan syariat Islam, namun membuat hampir seluruh wilayahnya tenggelam berada satu kilometer di atas permukaan laut dan mengancam umat Islam.

Oleh karenanya Fachruddin menegaskan dalam buku tersebut sebagai manusia yang menjadi khilafah dan hidup di Indonesia dengan kekayaan alamnya, hendaklah menjaga keseimbangan ekosistem alam.

Sementara itu Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra menanggapi bukan hanya "global warming," tapi kerusakan ekosistem jadi tantangan besar dunia Islam.

"Ini tantangan ke depan gimana mengaktulaisasikan praktik keislaman dalam lingkungan sehari-hari," ujar dia.

Menurut dia tantangan saat ini di Indonesia sebagai negara dengan populasi Islam besar, namun Islamisasi dalam perilaku menjaga lingkungan belum terlihat.

Hal itu diakuinya tidak mudah karena masih terkait dengan kemiskinan, faktor padat penduduk dan urbanisasi kota besar.

Sehingga perlu adanya upaya konkrit mengimplementasikan nilai Islam dalam menjaga lingkungan dan mencegah krisis iklim.

"Jadi masalah kita terkait tidak adanya kesadaran mengimplementasikan ajaran Islam tentang lingkungan," kata dia.

Dalam kesempatan tersebut Imam Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar menanggapi bahwa buku tersebut menyadarkan manusia agar lebih sadar akan masalah besar yang sedang dihadapi yakni krisis iklim.

"Quran telah menegaskan tampak kerusakan di muka bumi adalah ulah tangan manusia. Apa yang salah manakala terjadi kerusakan bumi, pastilah kita menjadi faktor," kata dia.

Oleh karenanya, Nazaruddin mengimbau agar setiap umat muslim sebagai khalifah belajar dari sifat Allah yang memelihara alam, dan kembali mempelajari Quran dan Fiqih di mana ada ajaran mengenai memelihara alam dan memperbaiki estimologi keilmuan.
Ketua Pusat Pengkajian Fachruddin M. Mangunjaya menunjukkan akibat kerusakan ekosistem dan krisis iklim di Maladewa dengan populasi Muslim yang besar dalam peluncuran buku "Generasi Terakhir" di Jakarta, Rabu (9/6/2021). (ANTARA/Devi Nindy)



Baca juga: Menggadang-gadang dana iklim

Baca juga: Anak muda sepakat hutan Papua benteng terakhir hadapi krisis iklim


 

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Tebar benih ikan untuk kembalikan fungsi sungai

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar