Donggala (ANTARA News) - Aktivitas masyarakat di Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, hari ketiga pascalebaran Idul Fitri 1431 Hijriah, Minggu pagi, sudah berdenyut lagi setelah dua hari sebelumnya sibuk bersilaturahmi.

Ada yang masih melanjutkan kunjungan silaturahmi dalam momen lebaran Idul Fitri, ada pula yang sibuk mempersiapkan diri bertamasya bersama keluarga, teman, dan kekasih.

Hari itu muda-mudi, tidak sedikit pula yang sudah berkeluarga dan anak-anak tumpah-ruah di pusat-pusat wisata. Mereka melepas lelah setelah sebulan lamanya berpuasa.

Di Kecamatan Dampelas banyak pilihan tempat bertamasya. Ada Danau Dampelas dan Bayabi di Desa Talaga, Pantai Majang di Desa Rerang, Ogo Dampelas, tanjung Dampelas dan Bambahano di Desa Sabang. Masing-masing lokasi wisata itu menawarkan pesona alam yang berbeda satu sama lainnya.

Batu cadas yang di atasnya ditumbuhi pepohonan keras, pasir putih mengkilap, ombak bergulung, tiupan angin, artefak tapak kaki, karang bawah laut, pohon rindang nan tawaran kuliner tradisional dapat dijumpai di Bambahano, 150 kilometer arah pantai barat Kota Palu.

"Di sini cocok olahraga air seperti ski terutama saat teduh. Bagus juga untuk bola pantai karena pasirnya halus dan bersih," kata Kiki, warga setempat.

Bambahano adalah dua suku kata dari bahasa Dampelas. "Bamba" artinya muara. "Hano" artinya danau. Bambahano berarti muara danau.

Saat air laut surut, air danau Dampelas ikut mengalir ke laut. Itulah sebabnya masyarakat Sabang menyebutnya sebagai muara danau. Jarak pantai dan danau kurang dari satu kilometer diantarai hutan dan semak belukar.

Dalam hutan itu terdapat ekosistem flora dan fauna seperti burung belibis dan tanaman pemakan serangga sehingga dapat dijadikan ekowisata untuk kepentingan penelitian. Keunikan itulah salah satu alasan orang berkunjung ke Bambahano. Selain menyebur ke laut, juga bisa membilas badan dengan air danau. Jika air pasang, rasa air di sana payau.

Lokasi wisata ini bentuknya seperti tanjung. Posisinya di tepi pantai. Sekitar 40 meter dari darat, terdapat dua gumpalan batu besar menyerupai pulau kecil. Di atasnya ditumbuhi pepohonan keras tahan air asin. Menyeberang ke batu itu bisa dengan berjalan kaki jika air dalam posisi surut. Banyak pengunjung berpose dengan latar tebing batu cadas.

"Kalau air pasang, kelihatan dua batu itu seperti pulau kecil tidak berpenghuni," kata Kiki.

Menurut Kiki, karang bawah laut di sekitarnya sebagian masih terawat. Sejak akhir tahun 1980-an, pemerintah desa di Sabang sudah melarang mengambil batu karang di sekitarnya. Meski masih ada aktivitas pengambilan karang untuk material pembangunan rumah tapi jauh dari lokasi itu.

Wisata Bambahano itu pertama kali dibuka oleh Pengurus Karang Taruna Desa Sabang sekitar tujuh tahun lalu. Sekelompok generasi muda yang tergabung dalam Karang Taruna membuka semak-semak di sana. Pohon-pohon kecil mereka tebang. Pohon besar nan rindang disisakan untuk tempak berteduh.

"Jadilah dia seperti sekarang ramai dikunjungi orang terutama musim lebaran," kata Kiki.

"Beberapa tahun lalu saya lihat ada orang bule datang ke sini untuk sebuah penelitian," katanya.

Dua tahun setelah dibukanya lokasi itu, pemerintah Kabupaten Donggala, di bawah kepemimpinan Bupati Adam Ardjad Lamarauna mengaspal jalan menuju lokasi itu. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari jalan trans Sulawesi. Kini Kendaraan roda dua dan empat bisa didaratkan langsung ke bibir pantai Bambahano.

Jarak tempuh dari Kota Palu ke Bambahano kurang lebih 150 kilometer arah pantai barat. Biasanya ditempuh tiga jam paling lama dengan kecepatan rata-rata 50 kilometer per jam.

Belakangan ini jalan di jalur pantai barat Donggala tembus ke Kabupaten Tolitoli sudah mulus. Lebar jalannya rata-rata enam meter. Dinas Pekerjaan Umum Provinsi memperkirakan tahun 2010 ini seluruh proyek jalan dan jembatan di wilayah ini akan tuntas.

Menuju Bambahano bisa dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi. Menggunakan kendaraan pribadi bisa berangkat dari Palu kapan pun. Pagi-pagi lebih baik sehingga bisa tiba di Bambahano pagi pula. Sore bisa kembali lagi setelah seharian bercengkrama dengan keindahan alam di sana.

Bagi yang ingin bermalam, di sana ada tempat beristirahat meski belum representatif. Tetapi ada pilihan penginapan di Desa Sabang.

Sebelum masuk ke Bambahano, Anda lebih dulu bertemu dengan Danau Dampelas atau danau Talaga yang teduh di bawah kaki gunung Sitangke sebagai zona penyangga danau itu. Di sana pengunjung bisa melepaskan lelah sesaat di pinggir jalan dekat danau. Jika membawa kail, bisa menumpang mancing ikan tawar, setelah itu melanjutkan perjalanan. Tidak lebih dari 20 menit sampai ke Bambahano.

Sekali jalan, Anda bisa menikmati dua pesona alam yang unik, danau Dampelas dan pesona laut Bambahano.

Keunikan Mitologi
Menurut Budayawan Hapri Ika Poigi, keberadaan Bambahano tidak terlepas dari mitologi Sawerigading dan Nahadiya Dampelas. Awalnya danau dan laut di teluk itu menyatu, tetapi karena perseteruan Sawerigading dan Nahadiyah Dampelas, sehingga teluk itu tertutup dan terbentuklah danau Dampelas.

"Makanya di Bambahano itu ada artefak kaki yang besar di atas batu," kata magister Fakultas Budaya Universitas Gadjah Mada itu.

Jika air laut surut artefak kaki--warga di Dampelas menyebutnya kaki Sawerigading-- dapat dilihat jelas. Tapak kaki itu menempel di atas batu lengkap dengan lima jarinya.

Dampelas kata Hapri adalah salah satu suku bangsa yang berdiri sendiri. Memiliki ciri tersendiri sebagai suku bangsa seperti bahasa, budaya dan adat istiadat.

"Dampelas itu bukan sub etnis atau bagian dari etnis tertentu tetapi Dampelas adalah sebuah suku bangsa yang keberadaannya tidak terlepas dari mitologi Nahadiya Dampelas," kata Hapri.

Di Dampelas terdapat beberapa lokasi wisata yang bisa dijadikan destinasi pariwisata diantaranya adalah danau Dampelas dan Bambahano. Dua tempat ini memiliki daya tarik yang dapat membentuk sistem yang sinergi dalam menciptakan dan memotivasi kunjungan wisatawan.

Menurut Hapri, danau Dampelas dan Bambahano dapat dikembangkan sebagai objek wisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Selain pesona alam di sana juga terdapat ekowisata untuk kepentingan penelitian.

"Tempat ini sebetulnya unik karena hanya di sana ada danau yang bersebelahan dengan laut ditambah lagi ekosistem flora dan faunanya. Apalagi ditambah dengan budaya lokal masyarakat Dampelas, lengkap sekali untuk destinasi pariwisata," kata Hapri.

Dosen pada Universitas Tadulako ini mengatakan, pemerintah daerah tampaknya belum fokus mengembangkan daerah tersebut sebagai potensi wisata yang memiliki keunggulan.

Pemerintah kata Hapri mestinya sudah bisa melakukan gebrakan iven untuk memperkenalkan wisata danau Dampelas dan Bambahano salah satunya melalui festival danau Dampelas."Tapi kan itu belum terlaksana," katanya.
(A055/A038)

Oleh Adha Nadjemuddin
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010