New York (ANTARA News) - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menimbulkan kegeraman di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis ketika ia mengatakan bahwa kebanyakan orang yakin pemerintah Amerika Serikat-lah yang melakukan serangan 11 September.

Ia juga memicu aksi mundur (walkout) di Majelis Umum PBB tidak lama setelah Presiden AS Barack Obama menawarkan rancangan negosiasi dengan Iran mengenai masalah nuklir.

Delegasi AS memimpin aksi walkout delegasi Barat yang marah karena komentar Ahmadinejad atas serangan Al-Qaeda pada World Trade Center yang hanya berjarak 6Km dari markas PBB. Delegarasi Uni Eropa segera menyusul keluar setelah delegasi AS.

Presiden Iran itu mengemukakan suatu teori bahwa "beberapa unsur pemerintah AS mengatur serangan untuk membalikkan kondisi perekonomian Amerika yang melemah dan untuk menggenggam Timur Tengah sekaligus demi menyelamatkan rezim Zionis.

"Mayoritas rakyat AS begitu juga politisi dan pemimpin lain setuju atas pandangan ini," katanya yang membuat keheranan peserta di ruangan itu.

Sekitar 3.000 orang tewas dalam serangan yang dilakukan Al-Qaeda yang membajak pesawat dan menabrakkannya ke gedung WTC di New York, Pentagon di Washington, dan ke lapangan di Pennsylvania.

Delegasi AS mengecam pemimpin Iran tersebut dalam satu pernyataan yang dikeluarkan bahkan sebelum Ahmadinejad menyelesaikan pidatonya.

"Dibanding mewakili aspirasi dan niat baik dari warga Iran, Ahmadinejad malah kembali memilih untuk menyampaikan teori konspirasi keji dan sentimen anti-Semit yang menjijikkan dan tidak berdasar," kata Mark Kornblau, juru bicara delegasi AS.

Obama tidak memberikan komentar secara publik tapi seorang pejabat senior AS mengatakan, "Presiden memaknai pernyataan itu sebagai sesuatu yang menyakitkan dan menyerang, khususnya karena disampaikan berdekatan dengan lokasi Ground Zero."

Menteri Luar Negeri Kanada, Lawrence Cannon, mengatakan pernyataan Ahmadinejad sebagai "pelanggaran besar atas standar internasional dan semangat PBB."

Pemimpin Iran itu kerap melakukan hal kontroversial di sidang Majelis Umum PBB. Tahun lalu ia melakukan aksi mundur setelah memberi pernyataan mengenai Israel.

Pidato tahun ini juga menyerang Israel yang ia sebut sebagai "Zionis."

Ahamadinejad mengkritik kekuatan utama dunia yang mencoba menghentikan program nuklir Iran, menuduh mereka berusaha memonopoli kekuatan nuklir sembari "terus menjaga, menambah, dan meningkatkan kecanggihan persenjataan nuklir mereka sendiri."

Ia mengatakan pada 2011 seharusnya dijadikan tahun perlucutan senjata nuklir --"Energi Nuklir untuk Semua, Senjata Nuklir Tidak untuk Siapapun."

Negara Barat menuduh Iran sedang membangun persenjataan nuklir dan PBB sudah menerapkan empat kali sanksi bagi negara Islam tersebut.

Namun Obama sebelumnya mengatakan di MU,"Pintu masih terbuka untuk diplomasi dan Iran seharusnya berjalan masuk ke pintu tersebut. Tapi pemerintah Iran harus memperlihatkan komitmen yang jelas dan dapat diprediksi, serta memastikan kepada dunia bahwa program nuklirnya sungguh-sunguh untuk perdamaian," katanya kepada para pemimpin dunia.

Pidato Obama
Obama menekankan pidatonya pada dukungan dan usaha untuk mengakhiri kebuntuan proses perdamaian di Timur Tengah, mengingatkan bahwa "akan lebih banyak darah tertumpah" bila perundingan gagal.

Ia mengatakan ada kesempatan satu-kali-dalam-satu-generasi untuk mendirikan negara Palestina bila para pemimpin kunci di kawasan dan pemimpin dunia memberikan dukungan untuk usahanya.

Obama didukung oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon yang mengatakan hal itu sebagai "pergerakan yang berani demi mencapai perdamaian yang komprehensif."

Pemimpin AS itu mengatakan bila pembicaraan Israel Palestina sukses, maka Sidang MU PBB tahun depan akan mendaptkan "satu anggota baru PBB --satu negara Palestina merdeka, hidup damai berdampingan dengan Israel.

Presiden Palestina Mahmud Abbas dan PM Israel Benjamin Netanyahu telah melakukan dua kali perundingan dalam putaran negosiasi baru yang dibantu AS bulan lalu. Tapi Abbas mengancam akan mundur bila Israel tidak memperpanjang moratorium mengenai pembangunan permukiman baru di daerah yang diduduki di Tepi Barat.

Obama kembali mengulang permintaan AS agar moratorium itu diperpanjang.

Presiden AS mengetahui pesimisme atas perundingan tersebut.

"Tapi coba pertimbangkan hal ini. Bila persetujuan tidak tercapai, rakyat Palestina tidak akan pernah mengetahui kebanggaan dan kehormatan saat memiliki negara sendiri.

"Israel juga tidak akan pernah mengetahui kepastian dan keamanan yang diperoleh dari negara tetangga yang berdaulat dan stabil yang berkomitmen atas kesadaran hidup bersama.

Ia mengingatkan bila perundingan gagal, hilanglah harapan akan perdamaian dari satu generasi.

"Akan lebih banyak darah tertumpah. Tanah Suci ini akan tetap menjadi simbol perbedaan dari pada simbol kemanusiaan," kata Obama.
(KR-DLN/H-AK)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010