Jakarta (ANTARA News) - Fotobioreaktor mikroalgae (phytoplankton) yang dirancang Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mampu menyerap 90 persen karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh cerobong asap pabrik.

"Riset kami memperlihatkan, dari 100 ppm karbon yang dihasilkan, 90 ppm di antaranya ditangkap oleh mikroalgae," kata peneliti dari Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Nugroho Raharjo, di gerai pameran teknologi yang digelar BPPT pada 28-30 September di gedung 2 BPPT Jakarta, Rabu sore.

Fotobioreaktor, ujarnya, adalah reaktor yang digunakan untuk mereaksikan organisma dengan bantuan cahaya. Organisma yang digunakan adalah mikroalgae dari jenis Chlorella sp yang dalam fotosintesisnya menggunakan CO2 untuk kemudian melepas O2.

BPPT telah menguji coba dua macam fotobioreaktor yakni single tubular airlift photobioreactor (STAP) pada 2008 dan multitubular airlift photobioreactor (MTAP) pada 2009-2010.

MTAP dapat menyerap satu gram CO2 per liter media kultur mikroalgae per hari sehingga dengan 105 liter satu unit MTAP dengan tujuh sel (tabung) dapat menyerap 105 gram CO2 per hari.

Keunggulan dari kultur mikroalgae yang dilakukan dalam fotobioreaktor adalah kondisi steril bisa dipertahankan, produksi terkontrol, desain bisa disesuaikan dengan kebutuhan industri, dan tak memerlukan lahan yang luas.

"Emisi dari industri diinjeksi ke fotobioreaktor yang dipasang di lokasi pembuangan gas (emisi) suatu pabrik. Ini akan menyerap gas karbon sehingga mampu mengurangi emisi CO2 ke atmosfer," katanya.

Ia menguraikan, emisi dari cerobong asap disedot oleh kompresor, lalu ditempatkan dalam kontainer penampung dan dialirkan ke tabung-tabung fotobioreaktor yang berupa pipa aclyric (mika) untuk diproses. Pipa ini bisa diperbesar untuk pabrik berkapasitas besar yang mengeluarkan banyak emisi.

Kultur mikroalgae di fotobioreaktor itu, ujarnya, selain akan menghasilkan pengurangan emisi, juga menghasilkan oksigen (O2) dan biomassa mikroalgae.

"Kalau mikroalgae sudah jenuh CO2, dilakukan lagi penyemaian mikroalgae. Mikroalgae baru yang lapar ini akan menangkap CO2 dengan lebih aktif. Seeding bisa dilakukan kira-kira dua kali sehari," katanya.

Cara pembersihan CO2 dengan mikroalgae jauh lebih murah dibanding cara konvensional, ujarnya sambil mengakui bahwa untuk membuat prototipe fotobioreaktor itu pihaknya membutuhkan sekitar Rp50 juta.

Fotobioreaktor ini menurut Nugroho, sudah dipraktekan di lokasi pembuangan emisi pabrik susu Indolacto, Ciracas dan akan digunakan juga oleh pabrik baterai ABC.

BPPT, urainya, berencana akan meneliti mikroalgae yang mampu menyerap gas lain yang juga berbahaya seperti gas metan yang dihasilkan oleh sampah dan 21 kali lebih berbahaya dari pada CO2. (D009/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010