Bangladesh perpanjang penguncian untuk perangi gelombang COVID-19

Bangladesh perpanjang penguncian untuk perangi gelombang COVID-19

Para migran dan pekerja meninggalkan kota dengan kapal cepat sebelum 'penguncian' seluruh negeri diberlakukan saat jumlah kasus penyakit virus korona (COVID-19) meningkat, di pelabuhan feri Mawa di Munshiganj, Bangladesh, Selasa (13/4/2021). REUTERS/Mohammad Ponir Hossain/hp/cfo (REUTERS/MOHAMMAD PONIR HOSSAIN)

Dhaka (ANTARA) - Bangladesh pada Senin memperpanjang penguncian terketatnya hingga 14 Juli untuk memerangi lonjakan kasus virus corona yang dipimpin oleh varian Delta yang sangat menular, dengan daerah-daerah yang berbatasan dengan India mengalami infeksi terberat.

Negara Asia selatan itu melaporkan 153 kematian akibat virus corona baru pada Minggu (4/7), kenaikan harian terbesar sejak pandemi dimulai, menjadikan jumlah kematian sebanyak 15.065. Total kasus mencapai 944.917.

Rumah sakit kewalahan dengan pasien virus corona, terutama di distrik yang berbatasan dengan India tempat varian Delta pertama kali diidentifikasi. Bangladesh menutup perbatasannya dengan India pada April, tetapi perdagangan terus berlanjut.

Lonjakan kasus telah mendorong pemerintah untuk memerintahkan satu minggu kontrol ketat pada Kamis, dengan pasukan tentara berpatroli di jalan-jalan.

Semua tindakan telah diperpanjang, kata pemerintah dalam sebuah pernyataan. Penutupan telah memicu eksodus pekerja migran dari ibu kota Dhaka ke desa asal.

Pabrik-pabrik diizinkan beroperasi dengan mematuhi protokol kesehatan sementara semua kantor dan transportasi tetap tutup menunggu pengangkut barang-barang penting dan ambulans.

Beberapa pekerja merasa sulit untuk bertahan hidup tanpa pendapatan yang masuk.

“Selama penguncian, tidak ada pekerjaan. Jika ini terus berlanjut, saya tidak tahu bagaimana saya memberi makan keluarga saya,” kata Mohammad Manik, ayah dari dua anak, yang bekerja sebagai buruh harian di sebuah pasar dapur di Dhaka.

"Bukan virus corona tetapi kelaparan yang akan membunuh kami."

Bangladesh menerima 2,5 juta dosis vaksin Moderna Inc dari Amerika Serikat di bawah skema pembagian global COVAX selama akhir pekan. Pihaknya juga menerima dua juta dosis vaksin Sinopharm dari China.

Upaya vaksinasi Bangladesh mengalami pukulan setelah India menghentikan ekspor suntikan AstraZeneca sebagai tanggapan atas lonjakan rekor infeksi domestik, dengan hanya 3% populasinya dari 170 juta sejauh ini menerima dua dosis yang diperlukan.

Sumber: Reuters
​​​​​​​Baca juga: Bangladesh perpanjang penutupan lembaga pendidikan, kecuali madrasah
Baca juga: Bangladesh beli 30 juta dosis vaksin AstraZeneca dari India
Baca juga: Bangladesh tutup tujuh desa usai puluhan ribu warga hadiri pemakaman

Penerjemah: Mulyo Sunyoto
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pecinta hewan di Bangladesh rayakan Hari Satwa Sedunia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar