Bank Dunia sebut tren belanja daring belum akan geser "offline"

Bank Dunia sebut tren belanja daring belum akan geser "offline"

Ilustrasi - Seorang konsumen sedang melakukan belanja secara daring. ANTARA/Shutterstock/am.

Berdasarkan data yang ada saat ini, saya rasa belum ke arah menggeser belanja langsung di toko
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Senior Bank Dunia Sailesh Tiwari memproyeksikan aktivitas belanja online belum akan menggantikan sepenuhnya kegiatan belanja langsung di toko-toko Indonesia meski pandemi COVID-19 mendorong peningkatan belanja secara digital.

"Berdasarkan data yang ada saat ini, saya rasa belum ke arah menggeser belanja langsung di toko. Bahkan di negara-negara lain yang aktivitas perdagangan online-nya lebih tinggi dari Indonesia, yang terjadi tidak seperti itu," kata Tiwari di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, belanja online di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain kepercayaan masyarakat di sejumlah daerah yang masih rendah terhadap transaksi online, hambatan logistik, jaringan internet yang belum stabil, dan keterampilan penggunaan internet yang minim.

Oleh karena itu, ia pun mendorong pemerintah untuk terus mengupayakan pelaku usaha, terutama yang berskala usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memanfaatkan teknologi digital. Pemerintah perlu memberikan pelatihan agar para pedagang memiliki keterampilan memanfaatkan platform perdagangan digital.

Baca juga: Bank Dunia: Digitalisasi menjadi harapan Indonesia di tengah COVID-19

"Keterampilan ini penting sekali, karena bahkan di antara mereka yang sudah berada di pasar online, yang berpendidikan lebih tinggi akan memiliki pendapatan lebih tinggi. Jadi ada kesenjangan juga di antara mereka yang sudah berada di platform online," katanya.

Dalam laporan terbarunya, Bank Dunia menekankan agar ada upaya untuk membuat teknologi digital yang dapat digunakan oleh semua orang di Indonesia agar pertumbuhannya bersifat inklusif.

Saat ini, pemanfaatan teknologi digital bertumbuh cepat di Indonesia, dengan intensitas penggunaan lebih tinggi dibandingkan negara di kawasan yang sama. Namun, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk membuat adopsi teknologi digital lebih merata.

"Masih ada tantangan yang dihadapi, sebagaimana di wilayah yang lain juga, terkait dengan perkembangan bandwith ponsel dan bagaimana yang digunakan masih yang rendah. Ini yang dibahas, bagaimana kita mengelola infrastruktur untuk mendorong lebih banyak masyarakat yang belum bisa akses internet," kata Tiwari.

Baca juga: Bank Dunia: Indonesia perlu tingkatkan konektivitas digital

Baca juga: Bank Dunia: Indonesia perlu dorong UMKM adopsi teknologi digital


Pewarta: Sanya Dinda Susanti/Satyagraha
Editor: Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Transaksi elektronik tembus Rp21,4 triliun per Maret

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar