Ekonom katakan aplikasi Peduli Lindungi perlu dioptimalkan

Ekonom katakan aplikasi Peduli Lindungi perlu dioptimalkan

Seorang tenaga kesehatan menunjukan E-Sertifikat usai divaksin COVID-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Sele Be Solu Kota Sorong, Papua Barat, Senin (18/1/2021). ANTARA FOTO/Olha Mulalinda/aww. (ANTARA FOTO/OLHA MULALINDA)

..masih banyak PR (Pekerjaan Rumah) untuk developer aplikasi Peduli Lindungi
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menyatakan aplikasi Peduli Lindungi masih perlu banyak pembenahan baik untuk membangkitkan aktivitas perekonomian maupun untuk tracing dan tracking COVID-19.

“Jadi, memang pemanfaatan digital teknologi dalam penanganan pandemi sudah banyak dilakukan oleh negara-negara lain seperti Singapura, China, dan lainnya. Maka, pemanfaatan aplikasi Peduli Lindungi seharusnya bisa dioptimalkan untuk menjadi aplikasi wajib untuk setiap orang,” ujar dia di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, tidak efektifnya aplikasi tersebut dapat berefek pula kepada persoalan administrasi.

Misalnya, tutur Nailul, untuk ke bandara perlu menunjukkan kartu vaksin dan bebas virus. Tetapi, meski kartu vaksin sudah ada, kartu bebas virus justru masih menggunakan kertas atau scan hasil dari klinik maupun rumah sakit.

Ia mengemukakan bahwa aplikasi Peduli Lindungi belum menyediakan sistem yang mencatat status bebas virus.

Kemudian, masalah lainnya adalah tracking dan tracing yang hanya hidup apabila Global Positioning System (GPS) tersambung ke aplikasi. Sedangkan, jika tidak membuka aplikasi, maka takkan bisa melakukan tracking dan tracing.

"Jadi masih banyak PR (Pekerjaan Rumah) untuk developer aplikasi Peduli Lindungi,” sebut dia.
Baca juga: Pemerintah dorong penggunaan aplikasi PeduliLindungi tekan COVID-19

Beberapa menu juga dikatakan kurang optimal, seperti tes COVID-19 yang tidak ada pemutakhiran dan sinkron dengan data nasional.

“Saya yang terakhir positif COVID-19, namun tidak terdeteksi di aplikasi tersebut dan statusnya masih tidak terpapar. Jadi, rada bahaya juga kalau jadi semacam kartu pass untuk ke mall, bandara, dan tempat publik lainnya,” ungkap Nailul.

Selain itu, lanjut dia, tak semua orang juga mempunyai gawai smartphone, sehingga harus dipikirkan juga bagaimana caranya untuk tracking, tracing, testing, dan vaksinasi.
Baca juga: Pemerintah optimalkan digital tracing lewat aplikasi PeduliLindungi

Bagi Nailul, kombinasi analog seperti penggunaan kertas dan digital untuk memperbaiki aplikasi Peduli Lindungi agar bisa menjadi kartu pass untuk ke tempat publik.

Dia memaparkan bahwa aplikasi Peduli Lindungi yang belum optimal masih memerlukan gawai atau alat lain untuk dapat menjadi tiket orang untuk berkegiatan di luar rumah.

Sementara teruntuk mereka yang tak memiliki smartphone, maka disarankan menggunakan analog/manual agar dapat berkegiatan di luar rumah.

Baca juga: Pemerintah berlakukan aplikasi PeduliLindungi untuk perjalanan udara

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas/M Razi Rahman
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kemenhub:  Peraturan transportasi Indonesia lebih baik dari negara lain

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar