Pagaralam (ANTARA News) - Status Gunung Api Dempo di Kota Pagaralam, Sumatera Selatan masih aktif normal atau level I, meskipun dilaporkan telah mengalami puluhan kali gempa vulkanik dan tektonik.

"Memang sudah puluhan kali terjadi gempa vulkanik dan tektonik walaupun dengan kapasitas relatif kecil, sehingga tidak begitu berpengaruh dengan kondisi Gunung Api Dempo yang sebelumnya pernah naik statusnya menjadi waspada atau level II tahun 2008 lalu," kata Kepala Pos Pemantau Gunung Api Dempo, Slamet, di Pagaralam, Jumat.

Dia menyatakan, berdasarkan data tercatat pada peralatan seismograf di Gunung Api Dempo itu, pada Selasa (26/10) terjadi enam kali gempa, baik vulkanik maupun tektonik.

Pada Rabu (27/10), menurut Slamet, terjadi pula enam kali gempa vulkanik di Gunung Api Dempo itu.

Menurut dia, Gunung Api Dempo itu masih menjadi prioritas pengawasan oleh tim langsung dari Badan Geologi, Pusat Vukanologi, Mitigasi Bencana Geologi, Bandung, meskipun statusnya aktif normal atau level I.

Apalagi setelah Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta meletus, pengawasan atas Gunung Api Dempo terus dilakukan, kata dia lagi.

Dia menegaskan bahwa sampai saat ini tidak ada gejala peningkatan aktivitas yang terjadi di Gunung Api Dempo.

Menurut Slamet, beberapa waktu lalu tim dari Bandung dan petugas Gunung Api Dempo telah memasang alat perekam tambahan pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (dpl), untuk membantu jika sewaktu-waktu alat perekam yang dipasang di puncak gunung itu mengalami gangguan atau rusak.

"Sejak ada tambahan peralatan tersebut, Gunung Api Dempo telah memiliki dua alat perekam aktivitas, yakni seismometer yang dilengkapi antena yang dapat menerima sinyal, untuk kemudian diterima seismograf di pos pemantau," kata dia lagi.

Sebetulnya, lanjut dia, ada juga alat pemantauan Gunung Api Dempo yang berfungsi untuk mengetahui posisi kegunungapian, berupa alat global positioning system (GPS) dipasang pada empat penjuru di sekitar gunung itu.
(ANT127/B014)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010