Sumenep, (ANTARA News) - Para penumpang Kapal Perintis "Kumala Abadi" yang terapung-apung di Perairan Payangan, Kecamatan Nong Gunong, Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, akibat mesin kapal rusak, ingin segera dievakuasi ke Pelabuhan Kalianget.

"Saat ini, situasi di kapal mulai ramai. Para penumpang kapal mulai gelisah menunggu perahu bantuan yang akan mengevakuasi kami. Kalau bisa, para penumpang berharap secepatnya dievakuasi ke Pelabuhan Kalianget," kata salah seorang penumpang kapal Rahman melalui telepon, Sabtu pada pukul 11:30 WIB.

Kapal Perintis "Kumala Abadi" berhenti di Perairan Payangan, tepatnya di sebelah utara Pulau Sapudi, sejak pukul 01:00 WIB, akibat mesin kapal mati karena ada kerusakan.

"Kami sudah hampir seharian di atas kapal tanpa ada kepastian waktu kedatangan perahu yang akan mengevakuasi kami. Kami minta tolong segera sampaikan pada pihak terkait untuk mengevakuasi kami," katanya menambahkan.

Selain kepanasan, kata Rahman, sebagian besar penumpang kelaparan akibat bekal makanan dan minuman yang dibawanya dari rumah dan stok di kantin kapal sudah habis.

"Wajar saja jika penumpang kapal ini mulai panik. Sampai kapan kami harus menunggu kedatangan perahu yang akan mengevakuasi kami. Mesin kapal tampaknya sudah tidak bisa diperbaiki," katanya menuturkan.

Ia juga mengemukakan, kru kapal sempat memberitahukan perahu yang akan mengevakuasi para penumpang akan tiba di lokasi pada pukul 05:30 WIB.

Sementara Kepala Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Kalianget, JA Turmanto menjelaskan, pihaknya mengirim dua perahu untuk mengevakuasi 150 penumpang Kapal Perintis "Kumala Abadi" ke pelabuhan terdekat.

Kapal Perintis "Kumala Abadi" berangkat dari Pelabuhan Batu Guluk, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, pada Jumat (29/10) malam pukul 19:00 WIB, dengan tujuan Pelabuhan Kalianget.

Namun, Sabtu dini hari, sekitar pukul 01:00 WIB tepatnya ketika berada di Perairan Payangan, mesin kapal mati dan hingga sekarang tidak bisa diperbaiki.
(KR-DYT/F002)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010