Jakarta (ANTARA News) - Manusia di masa depan akan tinggal dalam kota kecil yang mengapung, menyeberangi pasifik layaknya berdiri diatas bunga lili raksasa.

Konsep awal itu telah dirancang perusahaan teknologi Jepang Shimizu dengan mengutamakan teknologi ramah lingkungan untuk menciptakan kota dengan kadar karbon netral.

Konsep The Green Float itu melibatkan sejumlah sel, yang masing masingnya memiliki lebar satu kilometer,dan rumah berpenghuni antara 10 ribu dan 50 ribu orang.

Masing masing sel individual akan bebas mengapung di lautan Pasifik di dekat garis khatulistiwa tetapi juga bisa bergabung bersama sama dengan sel lain untuk membentuk kota yang lebih besar dan bahkan gabungan kota.

Kumpulan sel itu akan menjadi negara sendiri, lengkap dengan aturan-aturan.

Anggota dunia baru itu akan tinggal dalam sebuah kota yang tingginya satu kilometer,letaknya di pusat sel. Lainnya orang akan tinggal di pinggir-pinggir sel itu.

Menara utama akan dikelilingi oleh lahan berumput dan hutan dan menjadi kota mandiri dalam konteks makanan.

Persediaan hewan dan ternak berada di dalam dataran yang juga mengelilingi menara yang dibangun pada lubang ponton sarang lebah seberat 7.000 ton.

Menara itu dibangun dari bahan yang super ringan dengan bahan metal yang diperoleh dari magnesium air laut.

Rencana imajinatif itu dirancang untuk menciptakan sebuah masyarakat karbon netral.

Pengembang Shimizu mengaku bahwa tinggal di sel dengan cara ini dapat mengurangi emisi karbon hingga 40 persen.

Sel itu akan menghasilkan nol pembuangan dan mendaur ulang setiap produk dan mengubah sampah menjadi energi menggunakan teknologi baru ramah lingkungan. Pulau-pulau pembuangan akan berada di sekitar lautan dan bisa "dipanen" guna menghasilkan energi.

Lokasi pulau merupakan kunci keberhasilan, ungkap si perancang.

Masing-masing kelompok sel akan berada dekat garis khatulistiwa, tempat iklim paling stabil. Sejumlah teknologi akan digunakan untuk melindungi kota terapung itu dari gelombang pasang surut dan cuaca ekstrim.

Guna melindungi penghuni dari gelombang besar, membran elastis kuat akan dipasang di laguna sekitar sudut terluar dari sel, dengan kedangkalan di atas membran berdiri setinggi 30 kaki di atas permukaan laut.

Dinding laut setinggi 100 kaki juga akan dibangun. Tsunami di laut terbuka jauh lebih tak berbahaya ketimbang mereka yang menjangkau wilayah pantai, ujar perancang itu.

Tiang pencahayaan akan di pasang di sekitar lingkar menara dan konduktor sorotan cahaya akan ditempatkan pada dinding luar untuk melindungi melawan kilat.

Shimizu ingin membangun sel pertama di tahun 2025 dan konsentrasinya pada pembangunan teknologi guna membuatnya terwujud.

Konsep itu ditampilkan pada konferensi universitas Jepang baru-baru ini.
(yud/A035/ART)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010