Sukabumi (ANTARA News) - Akademis yang juga dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Endes N Dahlan, menuturkan trembesi dewasa bisa menyerap gas karbondioksida sebanyak 28,5 ton/tahunnya.

"Dari hasil penelitian pada trembesi dengan diameter dahan 10-15 meter bisa menyerap karbondioksida 28,5 ton per tahun," ungkap Endes kepada ANTARA usai mengikuti penanaman pohon trembesi di Pondok Pesantren Azzainiyah-Kabupaten Sukabumi-Jawa Barat, Kamis.

Lebih lanjut Endes menjelaskan, di antara 43 jenis tanaman yang diteliti, bahkan ditambah 26 jenis tanaman lain, daya serap karbondioksida trembesi tetap terbesar. "Sehingga pohon ini bisa mengeluarkan gas oksigen yang cukup besar untuk kepentingan hidup umat manusia," tambahnya.

Menurutnya pihaknya belum melakukan riset secara rinci kapasitas evaporasi atau proses penguapan daripada liquid (cairan) dengan penambahan panas trembesi. Selain itu trembesi juga memiliki akar yang mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium untuk mengikat nitrogen 78 persen kandungan nitrogen dari udara.

"Sehingga memungkinkan trembesi bisa hidup di lahan-lahan marjinal, juga lahan-lahan kritis, seperti bekas tambang, bahkan mampu bertahan pada keasaman tanah yang tinggi ini dibuktikan dengan berhasilnya menanam trembesi di lahan kritis di Sulawesi bahkan sampai saat ini lahan tersebut menjadi subur," jelasnya lagi.

Ia menuturkan, pohon ini awalnya ditemukan hanya di savana Peru, Brasil, dan Meksiko, yang merupakan daerah yang sangat minim air. Namun, pohon ini tetap tumbuh dan terus berkembang bahkan daunnya pun lebat."Saya sangat mendukung langkah yang dilakukan oleh Korem 061 Suryakencana dan PT Djarum Kudus dengan menargetkan bisa menanam pohon trembesi sebanyak 500 ribu batang," tuturnya.

Endes menandaskan, memang pada awalnya penanaman pohon ini menjadi polemik yang katanya tumbuhan yang di dekat trembesi tidak bisa tumbuh. Tetapi dari hasil penelitian tenyata pohon tersebut bisa meningkatkan ekosistem yang berada di sekitarnya. (ANT/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010