Bandung (ANTARA News) - Tim peneliti dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengindikasikan adanya struktur "koros" dari selatan danau lumpur Sidoarjo yang mensuplai air ke lokasi semburan dalam jumlah yang signifikan.

"Tim mengindikasikan adanya suplay air semburan lumpur di Sidoarjo dari Gunung Penaggungan sekitar delapan kilometer arah selaran dari danau lumpur itu. Kami masih melakukan pendalaman kemungkinan menutup struktur koros itu untuk menghentikan suplay air ke sana," kata Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Iskandar Zulkarnaen di Bandung, Jumat.

Ia mengatakan, asumsinya tidak bisa menganggap jutaan meter kubik air bersama lumpur hanya datang dari bawah tanah. "Artinya ada pasokan dari luar yang terhubung ke pusat semburan di danau lumpur itu," katanya.

Menurut Iskandar, timnya telah melakukan pengukuran gaya `grafity` dari selatan ke barat. Hasil pengukuran itu menunjukkan adanya struktur koros yang membentang dari pegunungan Penanggungan yang merupakan daerah tangkapan air.

Zona koros pada struktur itu mensuplay air ke daerah Porong dan sekitarnya yang dipadu dengan tekanan magma dari bawah permukaan sehingga mengakibatkan semburan.

"Awalnya ada ada dua prediksi awal air yakni dari air laut Madura atau air tanah. Setelah diteliti isotop semburan lumpur itu tidak mirip air laur, sehingga jelas berasal dari air tanah," kata Iskandar.

Bila terbukti ada struktur koros itu, maka peneliti LIPI merekomendasikan adanya intervensi teknologi untuk memperkecil dan bahkan menutup pori-pori di struktur lapisan koros itu sehinga suplay air bisa berhenti atau diminimalisasi.

Menurut Iskandar, Kementrian PU memiliki teknologi dan teknik untuk memperkuat kontruksi termasuk untuk menutup zona koros itu.

"Dalam struktur di sana ada zona rekahannya, salah satunya bisa memasukkan material halus yang tidak larut untuk bisa mengisi zona yang bisa ditembus air itu," katanya.

Hasil penelitian terkait upaya penghentian semburan lumpur Lapindo itu merupakan salah satu yang dipaparkan dan dibahas pada pemaparan hasil-hasil penelitian LIPI khususnya Pusat Penelitian Geoteknologi.

Forum itu menurut Iskandar merupakan ajang interaksi antara peneliti, masyarakat, pemerintah dan elemen terkait lainnya, termasuk dengan lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang).

Beberapa hasil penelitian LIPI yang dipaparkan itu antara lain menyangkut optimalisasi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pengembangan kawasan sehingga bisa meminimalisasi dampak dan risiko bencana geologi.
(S033/P004)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010