Interkoneksi pipa gas Jawa-Sumatera tingkatkan ekonomi nasional

Interkoneksi pipa gas Jawa-Sumatera tingkatkan ekonomi nasional

Tangkapan layar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariaji dalam webinar bertajuk "Tackling Future Energy Demand through Innovation and Collaborations" yang dipantau di Jakarta, Rabu (8/9/2021). ANTARA/Sugiharto Purnama

Ini akan sangat membantu pertumbuhan industri di Sumatera dan Jawa, sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan interkoneksi pipa transmisi gas bumi Pulau Jawa dan Pulau Sumatera akan meningkatkan pertumbuhan industri dan ekonomi nasional.

"Ini akan sangat membantu pertumbuhan industri di Sumatera dan Jawa, sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariaji dalam webinar bertajuk "Tackling Future Energy Demand through Innovation and Collaborations" yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Saat ini, lanjutnya, pemerintah tengah mempercepat pembangunan dua proyek strategis pipa transmisi gas bumi, yakni ruas Cirebon-Semarang di Pulau Jawa sepanjang 255 kilometer dan Dumai-Sei Mangkei di Pulau Sumatera sepanjang 386 kilometer, sehingga akan semakin memperpanjang interkoneksi pipa gas kedua pulau tersebut.

Pembangunan proyek pipa transmisi gas Cirebon-Semarang akan menggunakan dana anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dibagi menjadi dua tahap, yakni Semarang-Batang pada 2022 dan Batang-Cirebon pada 2023.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) telah mengusulkan nilai investasi pembangunan pipa transmisi gas bumi ruas Semarang-Batang sebesar Rp1 triliun dalam rencana anggaran tahun depan.

Selanjutnya, BPH Migas membuka opsi pendanaan untuk proyek pipa transmisi gas ruas Batang-Cirebon melalui APBN atau kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).

Estimasi anggaran untuk proyek tahap kedua tersebut mencapai Rp1,89 triliun.

Adapun proyek pembangunan pipa transmisi ruas Dumai-Sei Mangkei telah dilakukan sejak 2014 dan akan disesuaikan kembali jelang penghentian pasokan gas dari Blok Corridor ke Singapura pada 2023 mendatang.

Pembangunan pipa transmisi di Pulau Sumatera tersebut guna memenuhi kebutuhan dalam negeri mulai dari sektor industri maupun pembangkit listrik, sehingga gas dengan kapasitas 300 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dari Blok Corridor tidak akan lagi diekspor ke Singapura maupun negara lain.

"Di Jawa, akan dibangun pipa Cirebon-Semarang (Cisem) yang diharapkan dalam beberapa tahun ke depan bisa dibangun. Pemerintah juga mengharapkan ada pembangunan pipa Dumai ke Sei Mangkei, sehingga jaringan dari Sumatera Utara sampai ke Jawa Timur bisa tersambung," ucap Tutuka.

Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan cadangan, produksi migas, dan optimalisasi pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan domestik yang saat ini tercatat sebesar 63,9 persen.

Kementerian ESDM mencatat realisasi kontribusi gas bumi terhadap bauran energi nasional tahun lalu sebesar 19,36 persen dan ditargetkan akan meningkat menjadi 22 persen pada 2025 mendatang.

Saat ini, potensi cadangan gas nasional mencapai 62,4 triliun kaki kubik (TCF) dengan cadangan terbukti 43,6 TCF yang dapat diproduksi selama 20 tahun ke depan.

Dari total potensi gas tersebut sebanyak 85 persen berada di Indonesia timur, sehingga pembangunan infrastruktur menjadi kunci utama dalam memaksimalkan potensi gas bumi untuk menopang transisi energi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga: BPH Migas tinjau status Bakrie & Brothers dalam proyek pipa gas Cisem
Baca juga: Proyek pipa transmisi gas bumi Cirebon-Semarang akan didanai APBN
Baca juga: KemenESDM: Pipa gas Gresik-Semarang siap penuhi kebutuhan masyarakat

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar