Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah mengharapkan, penandatanganan kontrak kerja sama pengelolaan Blok East Natuna di Kepulauan Riau bisa terlaksana pada Juni 2011.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo di Jakarta, Jumat, mengatakan, saat ini PT Pertamina baru memilih tiga mitra yang akan digandeng guna mengelola East Natuna.

"Selanjutnya, Pertamina dan ketiga mitranya mesti menyepakati aspek komersialnya, sebelum membahas terms and conditions dengan pemerintah. Kami harapkan dalam enam bulan sudah selesai semua," katanya.

Hal itu dikemukakan usai penandatanganan pokok-pokok perjanjian (head of agreement/HoA) pengelolaan East Natuna antara Pertamina dan dua mitranya yakni Total dan Petronas.

Penandatanganan tersebut melengkapi tiga perusahaan sebagai mitra Pertamina dalam mengelola East Natuna.

Sebelumnya, Pertamina sudah menandatangani HoA pengelolaan East Natuna dengan ExxonMobil pada Jumat (3/12).

Dengan demikian, lengkap sudah tiga mitra yang akan diajak Pertamina mengelola Blok Natuna yakni ExxonMobil, Total, dan Petronas.

Dirut Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, pihaknya berharap produksi gas East Natuna bisa dimulai 10 tahun setelah penandatanganan kontrak kerja sama dengan pemerintah atau pada 2021.

Juru bicara Petronas Non Saputri mengatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada Indonesia menyangkut porsi saham buat Petronas.

Saputri menambahkan, Petronas mempunyai pengalaman mengelola ladang gas Cakrawala di Malaysia dengan kandungan CO2 yang cukup tinggi yakni mencapai 44 persen.

Blok East Natuna juga diketahui memiliki kandungan CO2 hingga 70 persen. Pemerintah secara resmi menunjuk Pertamina sebagai pengelola Blok Natuna D Alpha atau kini bernama East Natuna melalui Surat Menteri ESDM No 3588/11/MEM/2008 tertanggal 2 Juni 2008 tentang Status Gas Natuna D Alpha.

Selanjutnya, Pertamina melakukan seleksi mitra pengembangan Natuna. Berdasarkan kajian Wood MacKenzie Ltd, konsultan yang berbasis di Edinburgh, Skotlandia, yang ditunjuk Pertamina, ada delapan perusahaan migas multinasional yang cocok menjadi calon mitra Pertamina di Blok East Natuna.

Kedelapan perusahaan itu adalah ExxonMobil Corporation, Royal Dutch Shell Plc, Total SA, Chevron Corp, StatOil, China National Petroleum Corp (CNPC), Petroliam Nasional Berhad (Petronas), dan Eni SpA.

Namun kemudian, CNPC menyatakan mundur dan selanjutnya "short list" mengerucut menjadi lima perusahaan dan terakhir tinggal tiga.
(K007/B010)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2010