Penggunaan aplikasi "pedulilindungi" di Tulungagung masih minim

Penggunaan aplikasi "pedulilindungi" di Tulungagung masih minim

Salah satu penumpang bus, Donna Zulfa Ulin Nuha menunjukkan status vaksin dan kesehatan dirinya di aplikasi pedulilindungi saat menunggu keberangkatan bus di Terminal Gayatri Tulungagung, Kamis (16/9) (ANTARA/HO - Joko Purnomo)

antara 5-10 dari 1.500 pengunjung terminal yang bisa menunjukkan sertifikat vaksin dan status kesehatan melalui pedulilindungi
Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Masyarakat yang menggunakan aplikasi pedulilindungi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, sejauh ini masih minim, mengacu data pemakai aplikasi ini yang menggunakan jasa angkutan umum di daerah tersebut.

Hal ini diungkapkan Koordinator Satuan Pelaksana Terminal Gayatri Tulunggaung, Dukut Sismantoyo, Kamis, dimana dari 1.500 penumpang yang masuk melalui Terminal Gayatri, maksimal hanya 10 yang sudah memanfaatkan aplikasi pedulilindungi.

"Belum ada pendataan resmi. Namun hasil pantauan sementara ya antara 5-10 dari 1.500 pengunjung terminal yang bisa menunjukkan bukti sertifikat vaksin dan status kesehatan melalui aplikasi pedulilindungi," kata Dukut menjelaskan.

Baca juga: Satgas COVID-19 fasilitasi masyarakat untuk akses PeduliLindungi

Ia mengakui bahwa penggunaan aplikasi ini masih taraf sosialisasi, sehingga pengggunaanya belum banyak.

Masih ada toleransi saat penumpang ataupun awak bus dan angkutan umum lain, belum bisa menunjukkan aplikasi bukti status vaksin dan kesehatan mereka melalui aplikasi pedulilindungi.

Kendala lain yang sering ditemui, banyak warga yang menggunakan jasa angkutan umum tidak memiliki gawai yang mendukung. Selain juga sosialisasi yang memang belum optimal.

Baca juga: Aplikasi PeduliLindungi jadi syarat perjalanan internasional

Sebagai bentuk sosialisasi, pihaknya mempunyai petugas yang berkeliling mengedukasi penumpang, dan menempelkan kode batang di pintu masuk terminal untuk dipindai (scan) oleh penumpang.

Warga yang sudah mempunyai aplikasi ini diarahkan untuk pindai kode yang ditempelkan. Untuk yang belum punyai diarahkan untuk mengunduh aplikasi ini dan diajari penggunaanya.

Untuk sekarang, pihaknya tak bisa memaksakan warga untuk menggunakan aplikasi ini. "Takutnya mereka malah naik bus dari luar terminal dan merugikan kita," katanya.

Baca juga: PeduliLindungi diperbarui untuk pemegang sertifikat vaksin luar negeri

Salah satu penumpang, Donna Zulfa Ulin Nuha yang hendak pergi ke Malang, mengaku sudah mempunyai aplikasi ini. Namun dirinya tidak mengetahui adanya kewajiban untuk scan kode  jika hendak masuk ke Terminal.

"Ya sudah punya. Tetapi kalau di sini belum tahu kalau harus menggunakan aplikasi pedulilindungi," katanya.

Menurut Dona, sebenarnya banyak keuntungan yang didapat dengan aplikasi pedulilindngi.

Dirinya tak perlu repot membawa kartu vaksin. Di dalam aplikasi ini sudah ada kartu vaksin digital yang bisa dibawa dan ditunjukkan
dimanapun dan kapanpun.

Baca juga: Aplikasi PeduliLindungi deteksi 3.839 pengunjung tempat umum positif

Pada aplikasi pedulilindungi.id ini, akan muncul status vaksin dan kesehatan individu. Ada empat warga yang akan ditunjukkan sesuai status orang itu.

Hijau untuk yang sudah vaksin dua kali dan sehat. Mereka dengan warna ini boleh beraktifitas di luar rumah.

Warna oranye berarti yang bersangkutan boleh memasuki lokasi tapi harus mematuhi kebijakan pengelola lokasi.

Warna merah berarti orang tersebut belum divaksin dan harus melakukan vaksinasi COVID-19.

Terakhir warna hitam, berarti merupakan orang yang positif COVID-19 atau kontak erat pasien COVID-19.

Mereka tidak boleh beraktivitas di luar dan harus menjalani pemeriksaan kesehatan atau karantina. 

Baca juga: Kasus COVID-19 harian akhir pekan capai 5.001 orang, Jatim tertinggi

 

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar