Bojonegoro (ANTARA News) - Batu nisan kuno atas nama warga Belanda, J Van Der Sluijs yang meninggal tahun 1844, seberat satu ton lebih yang terpendam di jalan Desa Bakalan, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, Jatim, dipindahkan.

"Batu nisan ini kami pindahkan dengan memanfaatkan derek, karena bobotnya cukup berat satu ton lebih," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Djindan Muhdin, Rabu.

Batu nisan terbuat dari marmer dengan tebal 15 cm, panjang 2,5 meter dan lebar 1,3 meter, semula tertimbun tanah di kedalaman satu meter di jalanan Desa Bakalan, Kecamatan Kapas.

Setelah digali, batu nisan tersebut dipindahkan ke kantor Disbudpar Bojonegoro, Selasa (28/12) malam . Berdasarkan kisah warga setempat, menurut Djindan, batu nisan tersebut pada tahun 1974 dipindahkan warga dari lokasi aslinya, untuk membuat jembatan di jalanan desa setempat.

Ketika ada perbaikan jalan di desa setempat, termasuk jembatan, pada tahun 1984, batu nisan tersebut dibongkar dan dibiarkan berada di tepi jalan."Tidak ada warga yang berani memasukkan ke halaman rumahnya, karena takut," ucapnya, mengungkapkan.

Karena dibiarkan di tepi jalan, akhirnya batu nisan tersebut, tertimbun tanah sedalam satu meter, dan beberapa tahun lalu sempat menjadi bahan pembicaraan karena batu nisan yang tertimbun tersebut kelihatan (menyembul).

Ia mengatakan, batu nisan yang dipindahkan dari tempatnya tertimbun ke kantor Disburpad tersebut, sebagai langkah pengamanan, karena batu nisan tersebut sudah masuk benda cagar budaya.

Setelah dipindahkan dan dibersihkan, di atas batu nisan tersebut, tertera tulisan "J Van Der Sluijs Geb 15 Sept 1784 le GEER Truidenberg Weil 23 April 1844 Le Smanding".

Menurut Djindan, dipekirakan J Van Der Sluijs bertempat tinggal dan meninggal di Desa Semanding, Kecamatan Kapas, yang lokasinya persis di selatan Desa Bakalan.

"Dia meninggal karena sakit," jelasnya.

Diduga kuat, J Van Der Sluijs, seorang pejabat pengusaha Belanda yang begerak di bidang tebu, bukan pengusaha tembakau.

Pertimbangannya, tembakau Virginia Voor Oosgt (VO) ditanam di Bojonegoro dan sekitarnya setelah tahun 1870, dan sebelum itu tanaman paksa yang dilakukan Belanda kepada rakyat yakni tanaman tebu.

"Rencananya akan kami bersihkan lagi, untuk mempertajam tekstur marmer batu nisan ini," katanya.

Sebab, diperkirakan batu nisan tersebut bukan buatan Indonesia, namun asalnya buatan luar negeri. Djindan mengaku, belum tahu pasti, mau dikemanakan batu nisan temuan itu."Yang penting diamankan dulu, agar tidak rusak," ucapnya.(*)

(T.KR-SAS/C004/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010