Jakarta (ANTARA News) - Komisi X DPR akan memanggil Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga Andi Mallarangeng, pengurus PSSI dan Liga Primer Indonesia terkait polemik penyelenggaraan kompetisi sepak bola nasional.

"Pekan depan kita akan panggil Mennegpora, selanjutnya PSSI dan LPI," kata anggota Komisi X DPR RI Dedy "Miing" Gumelar di Gedung DPR/MPR di Jakarta, Jumat.

Dia menyatakan, melalui pembinaan sepak bola yang baik, maka akan bisa dihasilkan prestasi. Sepak bola salah satu merupakan cabang olah raga yang mampu membangkitkan bisnis dan nasionalisme.

"BUMN untung itu nggak ada apa-apanya bagi rakyat, tidak dirasakan rakyat, paling segelintir pimpinannya. Tetapi melalui sepak bola, bisnis, dan nasionalisme bisa tumbuh," katanya.

Munculnya, LPI sebaiknya dianggap sebagai koreksi terhadap PSSI. Sejak 2001, tak ada prestasi sepak bola nasional. "Boleh saja PSSI bilang sudah kirim tim dan tenaga untuk belajar di Uruguay, itu perorangan. tetapi tidak berpengaruh apa-apa, sistem sepak bola tetap hancur," katanya.

Dia menyatakan, sudah menyampaikan kepada Mennegpora mengenai terjadinya polemik dan kontroversi antara PSSI dengan kehadiran LPI. "Saya sudah sampaikan ini kepada Mennegpora empat bulan lalu, tetapi tidak ditanggapi. ya akhirnya terjadi seperti ini," katanya.

Dia menjelaskan, untuk menemukan solusi etrkait PSSI dan LPI, sebaiknya Mennegpora dipanggil ke DPR. Begitu juga PSSI dan LPI.

"Saya sudah sampaikan usul di komisi agar panggil LPI dan PSSI, tetapi tak disetujui. Kemudian kami di komisi setuju panggil Menegpora dulu, baru kita akan panggil LPI dan PSSI," katanya.

Dia menyatakan, hadirnya LPI merupakan cerminan rakyat yang memprotes hancurnya prestasi sepak bola nasional. "Tetapi jangan bisnisnya dulu, tetapi bagaimana sistem untuk membangun prestasi," katanya.

Dia menyatakan, harus ada pemahaman baik di pemain maupun di masyarakat bahwa kalau masuk akses prestasi melalui tim nasional melalui PSSI, sedangkan kalau mau bisnis melalui LPI.

"Sekarang ada nuansa politicking. Kalau ada nuansa bisnis saja, tak ada prestasi," katanya.

Dia juga mengatakan, LPI harus punya kesadaran mengenai akses internasional. "Kalau tanpa akses internasional kita hanya berprestasi di dalam negeri. Kalau duduk bareng dari awal, persoalan tidak rumit seperti ini," katanya.

Dia menyatakan, keduanya (PSSI dan LPI) lebih mementingkan ego dan saling merasa ada ancaman. "Publik menganggap sedang ada pertarungan pihak tertentu untuk masuk ke olah raga. Sepak bola akan dijadikan kendaraan politik," katanya.

karena itu, untuk selesaikan masalah, Menegpora harus segera turun tangan. "Sudah terlambat untuk turun tangan, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali," katanya.

Di sisi lain, LPI juga perlu kembali melobi PSSI untuk capai solusi. "Karena tujuan keduanya adalah berkibarnya Merah Putih," katanya.

(ANTARA/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011