Apa yang perlu Anda ketahui tentang COVID-19 saat ini

Apa yang perlu Anda ketahui tentang COVID-19 saat ini

Seorang kurir pengiriman dengan sepeda motor dan seorang pengendara sepeda melintasi pusat kota selama penguncian COVID-19 di Sydney, Australia, Selasa (14/9/2021). ANTARA/REUTERS

Jakarta (ANTARA) - Berikut adalah perkembangan terkini pandemi COVID-19 di dunia:

Sydney akan dibuka kembali secara bertahap

Pemerintah Australia pada Senin mengumumkan rencana untuk membuka kembali Sydney secara bertahap.

Warga yang sudah disuntik vaksin COVID-19 akan diberi lebih banyak kebebasan selama beberapa pekan.

Pembatasan pergerakan akan dicabut secara bertahap dari 11 Oktober hingga 1 Desember ketika tingkat vaksinasi di kota itu mencapai 70 persen, 80 persen, dan 90 persen.

Namun, mereka yang belum divaksinasi lengkap belum diizinkan untuk melakukan kegiatan sosial, seperti olahraga bersama, makan di luar, dan berbelanja, sampai 1 Desember.

Baca juga: Sydney akan keluarkan buku panduan saat pembatasan COVID dilonggarkan

Penelitian: Pandemi kurangi harapan hidup terbanyak sejak PD II

Pandemi COVID-19 mengurangi harapan hidup manusia pada 2020 dengan jumlah terbanyak sejak Perang Dunia II, menurut penelitian yang dirilis Universitas Oxford pada Senin.

Harapan hidup orang Amerika berkurang lebih dari dua tahun.

Penurunan terbesar harapan hidup dialami laki-laki ketimbang perempuan di sebagian besar negara.

Dari 29 negara yang diteliti, orang-orang di 27 negara di antaranya mengalami penurunan harapan hidup.

New York akan kerahkan Garda Nasional bantu rumah sakit

Gubernur New York Kathy Hochul berencana mempekerjakan Garda Nasional dan petugas medis dari negara bagian lain untuk mengatasi kekurangan staf rumah sakit.

Langkah itu diambil karena masih ada puluhan ribu petugas medis di New York yang belum menjalani wajib vaksinasi hingga tenggat pada Senin.

Sekitar 70.000 atau 16 persen dari 450.000 staf rumah sakit di negara bagian itu belum divaksinasi penuh, kata kantor gubernur.

Dalam pernyataan pada Sabtu (25/9), Hochul akan menetapkan status darurat agar dapat mempekerjakan staf medis profesional dari negara bagian lain atau negara lain, juga pensiunan perawat.

Anggota Garda Nasional yang sudah diberi pelatihan medis juga akan dikerahkan untuk membantu rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.


Baca juga: WHO anjurkan koktail antibodi COVID-19 bagi pasien berisiko tinggi


Ilmuwan petakan tempat antibodi melekat di paku virus corona

Sebuah "peta antibodi" COVID-19 disusun untuk membantu peneliti mengenali antibodi yang mampu menetralisasi corona bahkan setelah virus itu bermutasi, kata laporan di majalah Science pada Kamis (23/9).

Dengan menggunakan ratusan antibodi penyintas COVID-19 dari seluruh dunia, sebuah tim peneliti global memetakan secara akurat tempat setiap antibodi mengikat pada paku protein di permukaan virus.

Paku protein digunakan virus untuk masuk ke dalam sel dan menularinya.

Tim peneliti itu mencari --dan berhasil menemukan-- antibodi yang menarget bagian tertentu pada paku protein yang sangat penting dalam siklus hidup virus. Tanpa bagian itu, virus tak dapat berfungsi.

Bagian dari paku protein itu kemungkinan tetap menjadi sasaran vaksin atau pengobatan, bahkan jika virus telah bermutasi.

"Kalau kita membuat campuran antibodi, kita ingin setidaknya salah satu antibodi ada di sana karena antibodi-antibodi itu kemungkinan dapat mempertahankan efikasi melawan banyak varian," kata Kathryn Hastie dari Institut Imunologi La Jolla di California, salah satu penulis laporan itu. 

Antibodi ibu hamil yang divaksinasi diturunkan ke bayinya

Ibu hamil yang menerima vaksin COVID-19 berbasis mRNA menurunkan antibodi pelindung dengan kadar yang tinggi kepada bayinya.

Demikian hasil penelitian yang dilaporkan di American Journal of Obstetrics and Gynecology - Maternal Fetal Medicine pada Rabu (22/9).

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa "antibodi yang dibangun dalam tubuh sang ibu terhadap vaksin mengalir lewat plasenta dan kemungkinan akan memberi manfaat bagi bayi setelah dilahirkan", kata salah satu penulis laporan itu, Dr Ashley Roman dari NYU Langone Health di New York City.

Belum jelas apakah waktu pemberian vaksin selama kehamilan berhubungan dengan kadar antibodi pada bayi.

"Kami tidak tahu berapa lama antibodi itu bertahan di tubuh bayi," kata Roman.

"Namun, adanya antibodi dalam darah di plasenta, yaitu darah sang janin, mengindikasikan bahwa si bayi juga berpotensi menerima manfaat dari vaksinasi selama kehamilan."

Sumber: Reuters

Baca juga: Survei India: hampir 90 persen warga Mumbai punya antibodi COVID

 

Presiden Jokowi saat pidato di PBB singgung soal ketimpangan vaksin  

Penerjemah: Anton Santoso
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar