Surabaya (ANTARA News) - Warga nahdiyin di mana pun berada diimbau untuk menjalankan shalat gaib atas wafatnya KH Abdurrahman Chudlori di Rumah Sakit Lestari Raharja, Magelang, Jawa Tengah, Senin sekitar pukul 12.45 WIB.

"Atas nama PBNU saya turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya. Saya minta seluruh warga nahdiyin ikut mendoakan dan melakukan salat gaib untuk beliau," kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj dalam siaran pers yang dikirimkan humas PBNU kepada ANTARA di Surabaya, Senin sore.

Menurut dia, tidak hanya NU yang merasa kehilangan, melainkan juga seluruh rakyat Indonesia turut kehilangan pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, itu.

"Beliau adalah salah satu putra terbaik Indonesia. Jasa-jasa beliau tidaklah kecil untuk NU dan bangsa ini," kata Said.

Ia merasa prihatin karena semakin banyak ulama terbaik di Indonesia yang lebih dulu berpulang ke Rahmatullah.

"Ini juga menandakan bahwa Allah juga mengambil sebagian ilmu dari dunia ini. Mawtul `alim mawtul `alam (meninggalnya seorang ali ulama, pertanda matinya alam ini)," katanya.

Dia menyampaikan doa agar keluarga yang ditinggalkan dapat menerima kepergian almarhum dengan ikhlas dan sabar.

KH Abdurrahman Chudlori meninggal dunia dalam usia 68 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Hj Faizah dan dua putra, empat putri, (Nasrul Arif, Akhmad Izzuddin, Kuni Sa`adati, Nur Kholida, Linatun Nafisah, Zaimatus Sofia) dan lima cucu.

Mbah Dur merupakan putra pertama pendiri Ponpes Tegalrejo, KH Chudlori.

Jenazah mantan Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) itu akan dikebumikan di pemakaman keluarga Ponpes Tegalrejo, Selasa (25/1) pukul 11.00 WIB.

(M038/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011