Jakarta (ANTARA News) - Seorang guru besar Hubungan Internasional mengatakan kecil kemungkinan pengaruh dari pihak asing, terutama Amerika Serikat, terhadap unjuk rasa di Tunisia yang dampaknya hingga terusir presiden Zine El Abidine Ben Ali ke Arab Saudi.

"Jika mengaitkan pengaruh CIA, Amerika Serikat sekarang sedang dalam kondisi yang sangat sulit," kata Ketua program pasca-sarjana Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia Prof. Dr. Zainuddin Djafar saat acara ceramah dan diskusi di ANTARA, Selasa.

Ia menyatakan kondisi yang memberatkan campur tangan AS antara lain karena meledaknya berita kabel diplomatik AS oleh WikiLeaks, dan kendala biaya.

"Bisa kita lihat bahwa Obama ingin menarik pasukannya (dari operasi di luar negeri), sementara kondisi ekonomi dalam negerinya sedang sulit ditambah pengangguran yang tinggi," nyata Zainuddin.

Sebelumnya, ia menyatakan hasil temuan dari pengamat AS bahwa pergolakan mudah terjadi di negara berkembang yang mayoritas berpenduduk Muslim, karena umumnya rendah pendapatan dan pendidikan serta akses air bersih dan fasilitas umum yang terbatas.

Tetapi ia berargumen bahwa AS sudah tidak seperti dulu yang dapat langsung mencampuri urusan luar negeri, karena kesulitan akibat WikiLeaks serta biaya ekonomi yang tinggi untuk melakukan operasi semacam itu.

Ia memaparkan bahwa mayoritas negara berkembang mayoritas Muslim umumnya berdomisili di perkotaan yang biasanya rentan terhadap dinamika ekonomi.

"Bila harga dasar atau biaya angkutan umum mengalami kenaikan walau sedikit saja, masyarakat langsung responsif," jelasnya.

Menurut Zainuddin, ada tiga faktor penyebab yang pengaruhnya demikian cepat, pertama karena pihak oposisi yang mendukung dan bersimpati pada Mohamed Bouazizi yang sudah demikian terorganisir dengan baik dan mampu membaca aspirasi publik.

Kedua, aspirasi merata dari akar rumput hingga elit, termasuk Jenderal Rashid Amar yang dikabarkan menolak perintah presiden untuk menembaki para pengunjuk rasa, yang menginginkan perubahan di Tunisia.

Ketiga, kesenjangan politik, ekonomi dan sosial yang sudah menjadi masalah bagi rakyat dan kaum elit, sehingga menuntut perubahan politik.

"Masyarakat juga sudah jenuh karena berita mengenai korupsi yang selalu menyelimuti kehidupan sehari-hari mereka," katanya.

Mohamed Bouazizi merupakan seorang pedagang buah kaki lima di Tunisia yang bunuh diri dengan membakar diri pada 17 Desember tahun lalu setelah polisi menyita barang dagangannya yang merupakan satu-satunya sumber penghidupan.

Tindakan Bouazizi, yang memberikan gambaran beratnya kehidupan di Tunisia dengan tingginya kesenjangan antara rakyat dan penguasa, menjadi pemicu perubahan negara yang dramatis serta menimbulkan simpati dan unjuk rasa berlanjut di seluruh penjuru kota Tunis.(*)

(T.KR-IFB/H-RN)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011