Yogyakarta (ANTARA News) - Penulis asal Prancis yang telah jatuh cinta dengan budaya Jawa, Elizabeth D Inandiak dalam buku terbarunya berjudul "Merapi Omahku" menggambarkan bahwa mitos yang dipercayai masyarakat dapat musnah dan mati akibat bencana alam.

"Mitos selalu dibayangkan sebagai sesuatu yang abadi, namun dalam kenyataannya, khususnya bagi masyarakat di Gunung Merapi, mitos itu hanya rekaan tiga atau empat generasi sebelumnya," kata Elizabeth D Inandiak dalam peluncuran buku `Merapi Omahku`, di Yogyakarta, Sabtu malam.

Dalam buku yang didominasi warna hitam dan putih itu, penulis yang telah pula menerjemahkan "Serat Centhini" tersebut, menggambarkan mitos dalam kehidupan masyarakat di Gunung Merapi adalah berupa Beringin Putih dan Batu Gajah.

Beringin Putih itu kemudian mati akibat bencana letusan Merapi beberapa tahun lalu, sedangkan Batu Gajah kini tinggal terlihat separuh akibat letusan besar Merapi pada 2010.

Elizabeth mengaku memiliki kedekatan tersendiri dengan mitos Beringin Putih itu, karena sebelum datang ke Yogyakarta, dirinya telah pula menulis tentang sebuah pohon beringin pada 1991.

"Saya merasa dongeng tersebut menjadi kenyataan setelah mendapatkan cerita dari Mbah Maridjan (juru kunci Merapi) yang kemudian meninggal akibat erupsi Merapi 2010. Saya seperti terpilih," katanya.

Mitos, menurut dia adalah sebuah kearifan lokal yang dikembangkan masyarakat untuk menghargai alam dan lingkungannya, seperti menjaga pohon agar tidak ditebang secara sembarangan karena masyarakat di Merapi menjadikan alam sebagai bagian tak terpisahkan dalam kehidupan mereka.

"Masyarakat boleh saja mempercayai mitos itu, tetapi juga harus bersiap apabila harus melepaskannya, seperti yang terjadi sekarang," katanya.

Ia berharap masyarakat di Gunung Merapi, khususnya yang tinggal di Dusun Kinahrejo, dapat bangkit dan terus membangun kehidupannya yang sempat luluh lantak akibat bencana erupsi besar gunung itu pada 2010.

"Masyarakat perlu menggali lebih dalam makna dari erupsi tahun lalu, untuk bisa mengerti makna apa yang sebenarnya terkandung di baliknya," katanya.

Di dalam buku `Merapi Omahku`, Elizabeth mendapat bantuan dari Heri Dono, seorang perupa, sehingga kisah yang disampaikan dalam kata-kata tersebut memiliki ruang imajinasi yang luas, karena juga dirajut dengan seni rupa.

Heri menuangkan karyanya dalam opini yang bersifat karikaturis, katarsis, dan terkesan naif.

Sementara itu, penulis Afrizal Malna yang menjadi narasumber dalam diskusi buku "Merapi Omahku" mengatakan buku ini membawanya kembali ke imaji-imaji Jawa yang sudah tergerus oleh laju perubahan zaman.

"Buku ini seperti teologi tentang gunung yang dilahirkan oleh masyarakat agraris," katanya.(*)

(U.E013/M008)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011