pengendalian diri membuat orang lebih cenderung berperilaku agresif terhadap yang lain dan orang yang berdiet dikenal menjadi mudah tersinggung dan mudah marah
London (ANTARA News) - Penelitian baru menunjukkan bahwa berdiet membuat orang cenderung merasa mudah tersinggung dan marah.

Berdasarkan Telegraph, studi itu menegaskan usaha itu menyangkut pengerahan pengendalian diri dalam hal makan bisa mengantar kerangka pikir agresif dan bahkan pilihan atas film-film kekerasan.

Dalam satu penelitian, orang yang memilih apel daripada sebatang coklat lebih cenderung memilih film dengan tema kemarahan dan balas dendam daripada film yang lebih lembut.

Dalam studi lain, partisipan yang keuangannya dibatasi dengan memilih voucher hadiah untuk belanja lebih dari satu layanan spa menunjukkan lebih tertarik mencari wajah marah daripada takut.

Dalam eksperimen ketiga, partisipan memiliki lebih banyak pendapat baik terhadap pesan kebijakan publik yang menggunakan kemarahan - mendorong daya tarik - bila dana tidak ditingkatkan untuk pelatihan polisi, lebih banyak kriminal akan melarikan diri dari penjara - daripada yang mereka lakukan terhadap pesan sedih.

Akhirnya, para partisipan yang memilih camilan sehat daripada camilan enak yang kurang sehat lebih mudah tersinggung oleh pesan pemasar yang datang sebagai diktator.

"Kami berangkat untuk memeriksa apakah mengerahkan pengendalian diri bisa benar-benar mengantar ke jangkauan luas dari perilaku marah dan preferensi kemudian, bahkan dalam situasi di mana beberapa perilaku cukup halus," kata penulis penelitian David Gal, Northwestern University, di Chicago, dan Wendy Liu di University of California.

"Penelitian sudah menunjukkan bahwa pengerahan pengendalian diri membuat orang lebih cenderung berperilaku agresif terhadap yang lain dan orang yang berdiet dikenal menjadi mudah tersinggung dan mudah marah," jelas penulis.

"Para pembuat kebijakan publik perlu lebih perhatian pada potensi emosi negatif yang dihasilkan dari mendorong publik untuk mengerahkan lebih banyak pengendalian diri dalam pilihan sehari-hari," tulis peneliti.

"Sebaliknya campur tangan perilaku mungkin mengandalkan metode lebih luas untuk membantu perkembangan perilaku positif untuk tujuan jangka panjang."

Penelitian itu dipublikasikan dalam "Journal of Consumer Research."
(ENY)

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2011