Misrata (ANTARA News) - Libya pada Sabtu (16/4) dengan tegas membantah tuduhan oleh satu kelompok hak asasi manusia bahwa pasukan Muamar Gaddafi menggunakan bom tandan, yang tidak sah, terhadap pemberontak di Misrata, saat kota kecil terkepung itu kembali menghadapi pemboman sengit.

Menteri Luar Negeri Prancis Alain Juppe mengatakan satu resolusi baru PBB guna mendorong pemimpin Libya tersebut meletakkan jabatan tak penting, dan Menteri Perekonomian Jerman Rainer Bruederle menyarankan dana Libya yang dibekukan dialihkan kepada PBB untuk membayar bantuan buat korban konflik itu.

Kelompok Human Right Watch (HRW), yang berpusat di AS, menyatakan para penelitinya melaporkan penggunaan bom tandan, yang dilarang secara internasional, terhadap Misrata, kubu utama terakhir pemberontak di Libya barat.

Tapi jurubicara bagi rajim Libya membantah tuduhan tersebut.

"Tentu saja tidak. Kami tak melakukan ini. Secara moral, secara hukum kami tak bisa melakukan ini," kata Mussa Ibrahim kepada wartawan. "Kami tak pernah melakukan ini. Kami menantang mereka untuk membuktikannya."

Bom tandan meledak di udara dan menyebar amunisi penembus baja yang mematikan ke daerah luas.

"Semalam itu seperti hujan," kata Hazam Abu Zaid, seorang warga setempat yang telah mengangkat senjata guna mempertahankan permukimannya. Ia menggambarkan serangan dengan menggunakan bom tandan.

Satu tim New York Times mula-mula melaporkan penggunaan amunisi itu, dengan mengambil gambar peluru mortir MAT-120 yang dikatakannya diproduksi di Spanyol.

"Sungguh mengejutkan Libya menggunakan senjata ini, terutama di daerah permukiman," kata Steve Goose, Direktur Divisi Persenjataan di HRW.

Sementara itu suara ledakan keras mengguncang Misrata dan, di bagian timur, pertempuran sengit dilaporkan saat petempur pemberontak, yang diuntungkan oleh serangan udara NATO, mendesak dari persimpangan jalan kota kecil Ajdabiya ke arah kota kecil strategis penghasil minyak, Brega.
(*)

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2011