Ketua Aspadin optimis industri AMDK tumbuh 5 persen di tahun 2021

Ketua Aspadin optimis industri AMDK tumbuh 5 persen di tahun 2021

Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat air minum dalam kemasan di Jakarta, Selasa (21/4/2020). TARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.

Kita optimis masyarakat kembali melakukan aktivitas mereka dan membutuhkan produk kita untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) Rachmat Hidayat mengaku optimis industri air mineral dalam kemasan (AMDK) bertumbuh hingga 5 persen di tahun 2021 dibanding tahun lalu yang hanya mencapai 1 persen.

“Kita optimis masyarakat kembali melakukan aktivitas mereka dan membutuhkan produk kita untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari,” katanya melalui akun instagram @antaranewscom dalam acara Antara Ngobrol Bareng, Jakarta, Kamis.

Secara agregat, lanjutnya, pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman olahan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sekitar 6,66 persen per kuartal II tahun 2021.

Lebih lanjut, industri makanan dan makanan olahan juga menjadi penyumbang kontribusi terbesar terhadap sektor industri pengolahan non migas pada waktu yang sama dengan mencapai 38,42 persen.

Dalam hal ini, AMDK menyumbang 30 persen dari 38,42 persen atau yang terbesar dibandingkan industri minuman ringan, industri sari buah, dan jenis industri serupa lainnya.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kata Rachmat, jumlah industri AMDK yang berada di Indonesia diperkirakan mencapai 900 pelaku usaha dengan sekitar 2 ribu jumlah merek yang memperkerjakan sekitar 40 ribu tenaga kerja.

“Kalau secara economic multiplier, berarti kan ada sekitar 200 ribu orang Indonesia yang bergantung hidupnya secara langsung pada sektor industri AMDK,” ungkap dia.

Sejak pandemi COVID-19, dikatakan bahwa industri AMDK sangat terpukul sebagaimana industri lainnya. Adapun yang paling terpukul ialah kategori produk jenis kemasan kecil (cup) karena minimnya kegiatan masyarakat di luar rumah sehingga pemesanan produk cup berkurang drastis.

Di semester II tahun 2020, konsumsi pertumbuhan AMDK mencapai minus 40 persen. Tetapi, secara perlahan sektor tersebut berangsur membaik seiring kebijakan pemerintah untuk melonggarkan pembatasan sehingga masyarakat mulai melakukan kegiatan kembali.

“Kita punya semacam sekoci penyelamat. Penyelamat kita itu adalah format kemasan yang dikonsumsi di rumah yang kita sebut galon, dan ini juga yang kita harapkan menjadi motor untuk kita recover,” ungkap Rachmat.

Baca juga: Kemenperin: Transformasi digital pacu produktivitas industri mamin
Baca juga: Usaha makanan dan minuman penyelamat ekonomi Jakarta

Baca juga: Perusahaan air minum kemasan minta kemudahan perizinan
 

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Anggota Komisi VIII DPR sebut program nol sampah NTB gagal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar