Pakar Indonesia Jadi Anggota Misi Pencari Fakta ke Fukushima

Pakar Indonesia Jadi Anggota Misi Pencari Fakta ke Fukushima

Pembangkit tenaga nuklir Fukushima Nomor Satu milik Tokyo Electric.

London (ANTARA News) - Seorang pakar Indonesia di bidang tanggap darurat nuklir dan perlindungan radiasi, Dedik Eko Sumargo, terpilih oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk bergabung dengan Misi Internasional Pencari Fakta (International Fact-Finding Mission) ke Fukushima, Jepang.

Misi hanya terdiri dari 20 orang pakar nuklir terpilih dunia di bidang tanggap darurat nuklir, demikian Sekretaris Tiga KBRI /Perwakilan Tetap RI Wina, Austria, Luna Amanda Sidqi dalam keterangan persnya yang diterima Antara London, Selasa.

Dikatakannya misi tersebut dilepas Dirjen IAEA di Wina dan akan melaksanakan tugasnya mulai tanggal 24 Mei hingga 2 Juni mendatang.

Tugas utama misi tersebut adalah untuk melakukan penilaian awal mengenai aspek keselamatan nuklir (nuclear safety) di PLTN Fukushima Dai-ichi yang mengalami masalah pasca gempa dan tsunami pada tanggal 11 Maret lalu.

Hasil penilaian tersebut akan dilaporkan kepada Dewan Gubernur IAEA pada tanggal 6 Juni mendatang pada Pertemuan Tingkat Menteri mengenai Keselamatan Nuklir (IAEA Ministerial Meeting on Nuclear Safety) yang akan berlangsung di Wina, 20-24 Juni 2011.

Dedik Eko Sumargo adalah salah satu dari empat orang pakar Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) yang ditawarkan oleh Pemerintah Indonesia kepada Dirjen IAEA dan Pemerintah Jepang untuk membantu penanganan situasi di Jepang.

Penawaran tersebut disampaikan secara resmi oleh Dubes/Watap RI Wina, Duta Besar I Gusti Agung Wesaka Puja, kepada Dirjen IAEA dan Pemerintah Jepang (melalui Dubes Jepang di Wina) pada akhir April 2011 lalu.

Tawaran yang sama juga disampaikan Kepala BAPETEN, Asnatio Lasman, kepada pimpinan Badan Pengawas Keselamatan Nuklir Jepang (NISA) dalam pertemuan disela-sela Pertemuan Negara Pihak pada Konvensi Keselamatn Nuklir di Wina awal bulan Mei 2011 lalu.

Dedik Eko Sumargo memiliki pengalaman selama 21 tahun di bidang radiation protection dan 12 tahun di bidang emergency response. Selama ini aktif dalam berbagai aktivitas ilmiah terkait kedua isu tersebut yang diselenggarakan IAEA dan diakui kemampuannya oleh IAEA selama ini.

Terpilihnya pakar Indonesia untuk bergabung dengan Misi tersebut merupakan pengakuan dari IAEA dan dunia internasional terhadap penguasaan teknologi nuklir Indonesia dan terhadap kemampuan Indonesia dalam masalah tanggap darurat nuklir.

Hal ini juga memperkuat pandangan dunia terhadap Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang cukup maju dalam penguasaan teknologi nuklir dan terdepan dalam bidang tersebut di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. (ZG/K004)

Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Covid-19 di kapal Diamond Princess diduga bermutasi, observasi jadi 28 hari

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar