Yogyakarta (ANTARA News) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyatakan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta telah memasuki musim kemarau ditandai dengan berkurangnya curah hujan dalam tiga dasarian terakhir.

"Dalam tiga dasarian terakhir, curah hujan di wilayah DIY kurang dari 50 milimeter (mm) per dasarian, yang dapat diartikan bahwa wilayah tersebut sudah memasuki musim kemarau," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY Tony Agus Wijaya di Yogyakarta, Sabtu.

Selain dari curah hujan yang menunjukkan kecenderungan menurun, musim kemarau juga ditandai dengan pola angin yang bertiup di wilayah tersebut.

Ia mengatakan, angin yang bertiup di Yogyakarta didominasi oleh angin dari timur atau Monsoon Australia yang tidak banyak membawa uap air.

BMKG juga memperkirakan, musim kemarau pada 2011 akan berlangsung normal, tanpa disertai dengan gangguan cuaca seperti tahun lalu yang banyak diperngaruhi La Nina.

Oleh karena itu, selama musim kemarau berlangsung, tidak akan banyak terjadi hujan lebat, meskipun masih akan disertai dengan hujan dalam intensitas rendah.

"Hujan selama musim kemarau itu sifatnya normal, yaitu hujan dengan intensitas rendah. Meskipun namanya musim kemarau, tetapi bukan berarti tidak ada hujan sama sekali," katanya.

Musim kemarau pada 2011 diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Oktober dengan puncak pada Agustus.

Secara umum, suhu udara di DIY selama musim kemarau, lanjut dia, juga normal yaitu berkisar antara 34-35 derajat celcius saat siang hari dan 22-23 derajat celcius saat menjelang pagi hari.

"Pada Agustus atau September yang merupakan puncak musim kemarau, suhu udara saat siang hari bisa mencapai 36-37 derajat celcius," katanya.

Sementara itu, kecepatan angin juga normal dan tidak berpotensi menimbulkan gelombang tinggi, meski demikian nelayan di Pantai Selatan DIY tetap diminta untuk waspada.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Tuty Setiowati mengatakan, terdapat sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai selama musim kemarau, seperti infeksi pernafasan akut (ISPA), diare, demam berdarah dan juga leptospirosis.

"Kuncinya adalah melaksanakan pola hidup bersih dan sehat, atau selalu menjaga kondisi lingkungan," katanya.

(E013/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011