New York (ANTARA News) - Indonesia menyatakan optimistis dapat mencapai target 2015 yang dituangkan dalam Deklarasi tentang HIV/AIDS, yaitu deklarasi politik yang dihasilkan dalam pertemuan tingkat tinggi di Markas Besar PBB di New York, akhir pekan lalu.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono meyakini Indonesia bisa mencapai target itu, namun dengan syarat jika pemerintah pusat dan daerah memiliki tekad yang sama.

"Sekarang ini ada yang punya kepedulian tinggi, ada yang tidak. Sehingga hasilnya pun ada angka AIDS yang tinggi, seperti di Papua, ada yang rendah yaitu karena terkontrol dengan baik," kata Menko saat berbincang dengan ANTARA di New York, akhir pekan ini.

"Kalau dilakukan langkah-langkah yang nyata, saya berkeyakinan target-target global maupun nasional di daerah-daerah bisa tercapai di Indonesia," tambahnya.

Menurutnya, Indonesia hingga kini menunjukkan kemajuan dalam menjalankan berbagai target menyangkut pencegahan dan pengendalian penularan HIV/AIDS.

Kemajuan juga dialami dalam hal komposisi penyediaan dana untuk obat-obatan, yang saat ini bersumber 70 prosen dari dalam negeri dan 30 prosen dari bantuan luar negeri, termasuk Global Fund.

Pertemuan Tingkat Tinggi selama tiga hari yang dihadiri 3.000 peserta, termasuk 30 kepala negara/pemerintahan, berakhir dengan menghasilkan "Political Declaration on HIV/AIDS: Intensifying our Efforts to Eliminate HIV/AIDS" dalam sidang Majelis Umum PBB.

Melalui deklarasi itu, untuk pertama kalinya negara-negara anggota PBB menetapkan target-target global, baik dalam upaya pencegahan maupun pengobatan.

Selain berisi komitmen global yang relatif ambisiius dalam meningkatkan upaya menghapuskan HIV/AIDS, Deklarasi secara khusus juga menetapkan berbagai langkah yang akan ditempuh negara-negara untuk mencapai target tersebut.

Sebagai Ketua Delegasi RI di Pertemuan Tingkat Tinggi itu, Menko Kesra dalam pidatonya di Majelis Umum mengungkapkan masih banyak tantangan yang dihadapi Indonesia ke depan, termasuk masih tingginya ketidakpedulian tentang penyakit HIV/AIDS.

Untuk ke depan, ujarnya, Indonesia akan memberi perhatian lebih kepada tiga kalangan, yaitu perempuan, yang makin banyak terkena HIV positif; pria berisiko tinggi terkena HIV dan bekerja di tempat terpencil seperti pertambangan, perikanan, pertanian; serta kalangan muda berusia 15-24 tahun yang rentan terkena HIV karena gaya hidup mereka, menjadi pekerja seks atau penggunaan jarum suntik untuk narkoba.


Pengetahuan

Sementara itu, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI, M. Subuh, mengungkapkan bahwa empat target nasional, yang didasarkan pada Millenium Development Goals (MDGs) 2015 dan Inpres 3/2010 menyangkut pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS di Indonesia, sebagian besar sudah berada dalam jalur yaitu dalam hal akses pengobatan, pemakaian kondom, serta prevelansi.

Namun pengecualian terletak pada tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara penularan HIV/AIDS.

"Kalau dilihat, dari 104 butir poin Deklarasi itu, mungkin 80-90 persennya sudah bisa kita laksanakan... kecuali pengetahuan," katanya.

Menurut Subuh, sampai akhir 2014 ditargetkan pengetahuan komprehensif masyarakat berusia di atas 15 tahun mencapai 95 prosen.

Namun sampai 2010, berdasarkan riset kesehatan dasar, baru 11,6 prosen masyarakat usia tersebut yang memiliki pengetahun komprehensif tentang cara penularan HIV/AIDS.

Sebagai gambaran, hasil riset pengetahuan dasar dengan mengajukan tiga pertanyaan utama menyangkut HIV/AIDS, ungkap Subuh, menunjukkan 86,4 prosen responden menjawab bahwa HIV AIDS dapat ditularkan melalui nyamuk, berjabatan tangan dan bekas minuman.

"Dari situ saja kita tau bahwa masyarakat tidak mengerti, belum paham, atau mempunyai stigmatisasi sehingga tidak mau tahu dengan cara penularannya," kata Subuh.

Upaya peningkatan pengetahuan menurutnya akan terus didorong melalui pemerintah-pemerintah daerah.

"Upaya untuk meningkatkan pengetahuan kita lakukan juga bersama-sama dengan dunia pendidikan. Sebagian juga mungkin bulan Juli (2011) ini sudah masuk dalam kurikulum mereka," katanya kepada ANTARA. (TNY/A023/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011