Yogyakarta (ANTARA News) - Festival Kesenian Yogyakarta Ke-23 yang berlangsung sejak 26 Juni 2011, pada Selasa malam berakhir, ditandai dengan "Ruwatan Sukerto".

"Ruwatan Sukerto" atau upacara ritual jawa untuk menghilangkan segala yang buruk itu, digelar guna membuang berbagai kesialan yang terjadi selama penyelenggaraan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) Ke-23, sekaligus menolak bala untuk penyelenggaraan festival berikutnya.

Ruwatan ini diikuti tiga ketua panitia FKY Ke-23, yaitu Timbul Rahardjo, Kristiaji, dan Ryan Budi Nuryanto. Ruwatan dipimpin Yu Beruk dari perwakilan acara "Obrolan Angkringan".

Penutupan FKY Ke-23 dikemas dalam suasana acara "Obrolan Angkringan" yang didukung sejumlah seniman lawak atau komedian Yogyakarta.

"Air ruwatan diambil dari tujuh mata air yang berbeda. Selain itu, ada pula pisang, telur, bedak dan bunga sebagai pelengkap upacara ritual ini, yang masing-masing memiliki makna," kata Yu Beruk saat memimpin ruwatan.

Saat mengikuti ruwatan, seluruh ketua panitia FKY Ke-23 memakai pakaian serba putih sebagai simbol kesucian.

Sebelum tiba di lokasi ruwatan di panggung utama upacara penutupan, mereka diarak oleh sejumlah penari "edan-edanan".

Acara ruwatan yang biasanya sakral, berubah menjadi lebih segar dengan berbagai "guyonan" (canda, red) khas Yogyakarta yang dilontarkan Yu Beruk dan kawan-kawan.

Ketiga ketua panitia FKY tersebut memulai ruwatan dengan memakan pisang ambon agar perut terisi sehingga tidak sakit, karena ruwatan dilakukan pada malam hari saat udara dingin.

Acara dilanjutkan dengan memecah telur yang berada di ketiga kepala ketua panitia FKY Ke-23 itu, kemudian menyiramkan bedak putih. Selanjutnya dilakukan siraman dengan air kembang oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Djoko Dwiyanto.

Djoko berharap FKY tetap dapat digelar di masa yang akan datang, namun dengan formula yang lebih baik.

"Semua pihak sudah turut membantu demi kelancaran penyelenggaraan festival ini, dan saya berterima kasih. Adanya kekurangan dalam kegiatan ini, saya mohon maaf. Kita berharap kegiatan ini akan semakin baik di masa yang akan datang," katanya.

Sedangkan Ketua Umum Panitia FKY Ke-23 Timbul Raharjo mengatakan kegiatan budaya tahunan ini adalah milik seluruh warga Provinsi DIY yang dikenal sebagai orang yang kreatif.

"Siapa lagi kalau bukan masyarakat Yogyakarta yang membangkitkan FKY, karena konon kabarnya FKY sudah hampir mati. FKY adalah milik kita, dan harus terus dikembangkan," katanya.

Sejumlah kegiatan seni dan budaya telah digelar dalam FKY Ke-23, di antaranya pasar seni di Benteng Vredeburg yang diikuti sejumlah perajin, pameran seni di Bandara Adi Sutjipto, serta melukis bersama di trotoar Titik Nol Kilometer, Kota Yogyakarta.(*)

(U.E013/M008)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011