Kuala Lumpur (ANTARA News) - Sejumlah pekerja profesional asal Indonesia di Malaysia menyatakan bahwa suasana Ramadan di Negeri Jiran itu jauh lebih terasa karena adanya aturan yang menghukum siapa pun yang tidak menghormati orang berpuasa.

"Secara umum, tidak terlalu jauh berbeda dengan di Indonesia, namun di Malaysia saya nyaris tidak menemukan warung makan yang buka saat siang hari selama Ramadan," kata salah seorang warga asal Lampung yang sedang menjalankan ibadah puasa di Malaysia, Evi (35), di Kuala Lumpur, Senin.

Evi, yang kesehariannya bekerja sebagai staf di Wisma Provinsi Lampung itu, menceritakan pengalamannya selama lima hari menjalankan ibadah puasa di Malaysia.

"Saat hari libur warga Malaysia rata-rata malas keluar dan lebih memilih menjalankan ibadah puasa mereka di rumah, jadi jalanan terasa sangat lengang," kata perempuan yang tiba di Kuala Lumpur pada Sabtu (6/8) itu.

Menurut dia, suasana Ramadan di Malaysia secara umum tidak berbeda jauh dengan di Indonesia.

Pengamatan ANTARA, beberapa persamaan yang dapat ditemukan di Malaysia dan Indonesia, diantaranya adalah menjamurnya penjual ta`jil (makanan ringan untuk berbuka puasa) di beberapa lokasi tertentu sepanjang Ramadan.

Selain itu, suasana jalanan di sekitar masjid di Malaysia saat memasuki Tarawih akan dipadati kendaraan, sehingga kemacetan tidak terhindarkan.

Sedangkan, perbedaan mencolok adalah aturan ketat bagi warga untuk menghormati orang yang menjalankan ibadah puasa, dengan tidak makan dan minum di tempat umum.

Seorang warga lokal yang berprofesi sebagai supir taksi di Malaysia, Anuar (40), menceritakan, sanksi bagi warga yang melanggar aturan tersebut sangat berat.

"Jangan sekali-kali makan dan minum di tempat umum selama Ramadan di Malaysia, anda bisa ditangkap polisi," kata dia dengan logat bahasa melayu yang kental.

Dia menceritakan, hukuman bagi orang yang melanggar aturan tersebut adalah denda sebesar RM1.800 atau apabila dinilai dengan mata uang rupiah adalah sekitar Rp5,4 juta.

Selain itu, hukuman lain bagi pelanggar aturan tersebut, menurut Anwar, adalah diarak keliling kota dengan mobil jenazah, entah dia bercanda atau serius.

Sedangkan waktu berbuka puasa di Malaysia juga sembilan puluh menit lebih lama dibandingkan di Indonesia, yaitu pada pukul 19.29 waktu setempat (pukul 18.29 WIB, waktu Indonesia).

Meski demikian, waktu subuh di Malaysia baru dimulai sekitar pukul 05.42 waktu Malaysia.

Salah seorang warga Lampung lain yang menjalankan ibadah puasa di Malaysia, Maya, menyatakan, agak kagok saat pertama kali beradaptasi dengan jadwal puasa di negeri jiran tersebut.

"Agak aneh karena biasanya jam enam sore sudah buka puasa, tapi harus diundur hingga setengah delapan," kata dia.

Meski demikian, secara umum, dia menceritakan tidak ada masalah dengan jadwal tersebut karena puasa baru dimulai pada pukul 05.42 waktu Malaysia.

"Sebenarnya kalau dihitung sama saja, sekitar dua belas jam, tapi tetap saja perlu adaptasi untuk berbuka pada saat tarawih, kalau berada di Indonesia," kata dia seraya tertawa.

(ANT-046/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011