Jakarta (ANTARA News) - Istilah reshuffle kabinet selalu menjadi istilah paling digemari setiap menjelang bulan Oktober. Kata tersebut hampir diucapkan, dibahas bahkan diperdebatkan hampir oleh seluruh kalangan di tanah air.

Oktober 2010, desakan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan reshuffle kabinet mengalir deras, seiring dengan satu tahun masa pemerintahan SBY-Boediono yang dilantik pada Oktober 2009.

Namun seiring berjalannya waktu, desakan itu semakin berkurang sejalan dengan langkah Presiden yang mempertahankan Kabinet Indonesia Bersatu II.

Awal September 2011, satu bulan sebelum Oktober, dalam sidang kabinet Presiden menegaskan agar para menteri bekerja lebih baik dan menyelesaikan program-program yang telah disiapkan bersama.

"Untuk evaluasi kinerja kabinet, termasuk pemerintah daerah, senantiasa kita lakukan. Khusus yang ingin saya sampaikan, terkait dengan evaluasi implementasi penggunaan anggaran APBN-P 2011," kata Presiden dalam sidang yang berlangsung pekan pertama September 2011 tersebut.

Kepala Negara mengatakan, anggaran masing-masing kementerian yang telah diprogramkan sebelumnya hendaknya penyerapannya sesuai dengan rencana sehingga memperoleh hasil yang maksimal.

"Berkali-kali, saya katakan bahwa pembelanjaan pemerintah terutama belanja modal, sumbangan yang penting bagi pertumbuhan ekonomi di samping penyumbang lain, konsumsi rumah tangga, investasi dan netto ekspor impor, sehingga sudah kita rancang belanja pemerintah sekian ratus triliun, dengan harapan bila dibelanjakan baik dan tepat maka akan menyumbang ekonomi kita," katanya.

Presiden Yudhoyono mengingatkan, masih ada waktu empat bulan menjelang akhir 2011, agar capaian program sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Dijelaskannya, sejumlah laporan yang masuk menunjukkan kementerian-kementerian juga tidak menjalankan secara optimal keputusan yang telah disepakati dalam sidang kabinet mengenai langkah-langkah program kerja sehingga Presiden memberikan kesempatan sekali lagi pada para menteri untuk membenahinya.

"Kemarin saya bahas dengan Wapres, para Menko, Menseneg, Seskab dan Kepala UKP4, belanja modal di antara saudara sekalian masih jauh dari harapan, bila tidak segera diperbaiki dalam empat bulan, kita bertanggung jawab terhadap tidak tercapainya pertumbuhan, jangan sampai harusnya capai 7 persen hanya 6,6 persen karena anggaran tidak dibelanjakan. Nanti akan ada detailnya, saya masih berikan kesempatan sekali lagi, beberapa saat mendatang untuk segera dituntaskan," tegas Presiden.

Wacana Bergulir
Meski spekulasi mengenai akan dilakukannya reshuffle kabinet dalam waktu dekat terus bergulir, juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan evaluasi kinerja kabinet terus dan secara rutin dilakukan.

"Namun untuk reshuffle, sesuai dengan undang-undang maka itu merupakan hak prerogratif Presiden," katanya.

Sinyalemen akan adanya reshuffle menguat setelah Kepala Negara kepada wartawan mengatakan,"tunggu tanggal mainnya," saat ditanya mengenai isu reshuffle yang kembali menghangat di bulan September ini.


Tugas Tiga tahun mendatang
Staf khusus Presiden bidang komunikasi politik Daniel Sparingga kepada wartawan mengatakan memang ada wacana reshuffle namun baik Presiden maupun Wapres mencoba mengisolasi agar tidak terjadi kegaduhan yang tidak perlu.

"Sampai saat ini Presiden belum melibatkan siapa-siapa kecuali Wakil Presiden, dan pada waktu yang tepat akan juga melibatkan parpol, dan parpol juga mengerti sukses pemerintah juga sukses parpol," ujarnya.

Menurut dia, Presiden bersama Wakil Presiden sengaja mencoba untuk mengisolasi diri membuat jarak dari koalisi untuk menghasilkan keputusan terbaik dari tim kabinet.

Daniel mengakui Presiden Yudhoyono segera melakukan perombakan kabinet yang tujuannya untuk mempercepat kinerja pemerintahan selama tiga tahun ke depan. Namun, ia tidak bersedia menjelaskan komposisi baru kabinet yang tengah disusun oleh Presiden Yudhoyono beserta nama-nama baru yang akan masuk dalam kabinet.

"Ikhtiarnya menyiapkan tim yang siap untuk memikul suatu tugas baru, yaitu akselerasi tiga tahun ke depan," ujarnya.

Menurut dia, perombakan kabinet baru ditekankan pada komitmen para anggotanya agar target-target pemerintah dapat tercapai selama tiga tahun ke depan.

Perombakan kabinet itu, kata Daniel, akan menghasilkan cara baru mengelola pemerintahan mulai dari tingkat Presiden, Kementerian, pimpinan lembaga, hingga level gubernur dan bupati.

Ia mengatakan reshuffle dilakukan bukan karena desakan dari berbagai pihak namun lebih pada kebutuhan akselerasi capaian program.

"Pertimbangan melakulan perubahan susunan kabinet tidak datang karena desakan yang datang dari ruang ruang publik. Tidak juga karena survai mengatakan ini atau itu. Keperluan untuk melakukan akselerasi perubahan adalah faktor utamanya. Kata kuncinya adalah akselerasi." katanya

Menurutnya,"yang dilakukan bukan hanya menggeser atau menggusur orang, namun juga membawa serta cara pandang baru, komitmen baru, semangat baru, dan orientasi baru. Semuanya menjadi perlu karena sukses akselerasi ditentukan oleh tindakan cepat dan sigap. Karenanya semua jajaran kementerian, lembaga, pemerintah daerah diminta untuk meningkatkan kinerja dan kerja samanya. Apa yang dicanangkan dalam 3 tahun ke depan semata untuk bangsa ini, tidak untuk pencitraan atau legacy sekalipun. Tidak ada yang personal karena semuanya berurusan dengan publik, dengan masa depan republik."

Daniel mengatakan Presiden Yudhoyono akan memulai gaya pemerintahan yang lebih menggambarkan dinamika di luar istana.

"Kami yang di dalam akan lebih seirama dengan derap langkah yang di luar. Tidak ada yang terlambat karena semua ini memang harus dilalui. Namun semua orang juga harus tahu bahwa, yang kita perlukan adalah kontinuitas, bukan jalan pintas. Berhenti berpikir bahwa ada jalan mudah untuk sebuah transformasi yang sangat mendasar, yang cakupan dan jangkaunnya melampaui ruang negara dan pasar," paparnya.

Apapun langkah yang akan diambil oleh Presiden, tentunya sangat ditunggu oleh berbagai kalangan. Perlunya ada kepastian juga disampaikan oleh pengusaha Sofyan Wanandi pada wartawan usai bertemu kepala negara bersama jajaran Apkindo Selasa (20/9).

"Kita meminta ke bapak presiden bahwa demi kepastian hukum dan bursa kita, dan supaya menteri tenang, kalau mau ada reshuffle, ya reshuffle. Jangan membuat semua resah dan kita tidak bisa kerja karena semua menunggu nasib," katanya.
(P008)

Oleh Panca Hari Wibowo
Editor: Desy Saputra
Copyright © ANTARA 2011