Jakarta (ANTARA News) - Vovinam adalah olahraga Vietnam yang memadukan gerakan keras serta lembut dan tampaknya merupakan salah satu cabang olah raga yang menarik disaksikan pada SEA Games ke-26 yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat.

Vovinam, seni bela diri yang baru pertama kali dipertandingkan dalam SEA Games, merupakan gabungan antara kekerasan silat serta kelembutan wushu, dan di Indonesia, Bali menjadi sentra berkembangnya cabang olah raga ini.

Jenis laga ini ditandingkan hanya tiga hari (14-16 November) di GOR Tanjung Priok Sport Hall. Saingan terberat kontingen Indonesia adalah Vietnam dan pada pertandingan ini ada dua nomor yang dilombakan, yaitu seni pementasan (art/performance) dan kategori pertandingan.

Vovinam merupakan seni bela diri dengan menggunakan atau tanpa senjata, dan dalam latihan yang diasah adalah ketahanan fisik dan kekuatan pikiran. "Permainan ini mengandalkan kekuatan dan reaksi lawan," demikian dilukiskan dalam laman wikipedia.com.

Vovinam mengandalkan kecepatan dan kekuatan tangan, siku dan tendangan. Keduanya gerakan menyerang dan bertahan dilatih bahkan menggunakan gerakan gulat tradisional, sedangkan senjata di antaranya menggunakan pedang, pisau, tongkat dan kipas berlipat.

Teori dan latihan Yin dan Yang (bahasa Vietnam-nya: Am-Dương) menekankan bahwa dalam kehidupan universal ada kaitan antara Yin (negatif) dan Yang (positif). Vovinam menekankan hal itu, yaitu adanya kekerasan yang mendasari kelembutan dan adanya kelembutan yang mengatasi kekerasan. Kekerasan dan kelembutan sepadan untuk mengatasi segala situasi dan segala masalah.

Para atlet vovinam diajarkan tentang perpaduan antara unsur positif dan negatif yang pada ujungnya bermuara pada filosofi seni bela diri, yaitu: semangat juang, keberanian, keuletan, kejujuran, kesederhanaan dan toleransi. Latihan atlet vovinam mengarah pada ketahanan moral dan aplikasi filosofinya pada karakter mereka.

"Kesulitan paling mendasar adalah menyusup ke dalam ego seseorang dan kemudian mengatasi atau memperbaikinya,? demikian filosofi vovinam yang dijabarkan dalam beberapa laman.

Dengan salam pembukaan, ?Iron Hand over benevolent heart" (Tangan Besi di Atas Kebaikan Hati), para atlet diingatkan tentang prinsipal dan tujuan Vovinam (Việt V? Đạo) dalam setiap latihan. Ini juga berarti, menggunakan kekuatan dan reaksi lawan, untuk mendapatkan hasil maksimum dengan tenaga sedikit.

Vovinam ditemukan Nguyễn Lộc (8 April 1912 - 4 April 1960). Nguyễn lahir di Huu Bang, Distrik Thach That, Propinso Son Tay, Vietnam, anak termuda dari lima bersaudara. Ayahnya, Nguyễn Dinh Xuyen dan ibu Nguyễn Thị Hoa, selalu berpindah-pindah dan terakhir bermukim di dekatr Hano.

Nguyen memperkenalkan vovinam sebagai seni bela diri tradisional Vietnam pada 1938. Setelah diadakan demonstrasi di Hanoi pada 1939, vovinam dengan cepat berkembang di negara itu dan akhirnya menyebar secara internasional.

Mirip pencak silat
Vovinam mirip dengan cabang pencak silat, seni bela diri khas Indonesia sehingga atlet Vovinam Indonesia umumnya punya keahlian pencak silat dan atlet vovinam SEAG berasal dari cabang pencak silat.

"Mereka tidak mengambil kuda-kuda untuk melindungi kepala karena di pencak silat dilarang mengenai kepala. Sebaliknya di cabang vovinam, apabila mengenai kepala lawan justru mendapat poin," demikian penjelasan dalam laman tentang vovinam.

Di kejuaraan Laos Asian Indoor Games pada 2009, Indonesia meraih dua medali emas dan di ajang kejuaraan yang digelar di Kamboja, Indonesia meraih lima medali emas, sehingga pengalaman itu menjadi modal berharga untuk menatap persaingan perebutan medali cabang vovinam di arena SEA Games 2011.

Pada Sea Games 2011, Indonesia menurunkan 27 atlet, di antaranya sembilan putri dan 28 putera dan cabang vovinam hanya diikuti empat negara, Laos, Vietnam, Kamboja dan Indonesia.

Lawan terberat Indonesia yaitu Vietnam yang merupakan olahraga asal Vovinam itu sendiri. Atlet vovinam Indonesia akan menghadapi lawan kuat dari negara yang lebih dulu mengenal vovinam, bela diri asli Vietnam, seperti Laos, Kamboja, Thailand dan Filipina.

Kontingen Indonesia juga pernah berjaya dalam kejuaraan tingkat Asia Tenggara yang digelar di Pnomh Penh, Kamboja, 13-17 Oktober. Mereka pulang dengan titel juara ke dua di bawah Vietnam, dengan memboyong lima medali emas, lima perak dan tujuh medali perunggu.

Vietnam sebagai juara pertama meraih sembilan medali emas dan 10 medali perak. Lima medali emas itu berasal dari nomor penampilan (performance) tunggal puteri melalui Kadek Wulandari, "woman weapon doubleZ" oleh Luh Gede Arista Dewi dan Ni Made Ratna Dewi.

Pada nomor "men weapon double" medali diraih I Kadek Ari Sutara dan Putu Ruwita, pada nomor "women defense" oleh Eni Kusmayanti dan Sulendra sedangkan pada nomor "multi weapon" oleh Ari Wirawan, Wisnu Atmadi Sudewa, Suryawan dan Tomi Sunjaya.

Kesulitan masih dialami para atlet di nomor pertandingan (battle), karena teknik dalam serangan memakai kaki agak berbeda dengan silat.

Tendangannya lebih mengarah ke leher atau bagian atas. Teknik dasar dari Vovinam meliputi pukulan tangan (dong tay), sikut (cho), dan tendangan (da). Jurus yang terkenal dan cukup sulit dilakukan adalah guntingan kaki di leher lawan (Don Chan Tan Cong so 12).

Aturan paling baku dalam vovinam adalah "berbeda dengan pencak silat, dalam vovinam serangan ke kepala lawan legal dan lawan mendapatkan poin", seperti dilansir dalam "mediaanakindonesia.com".
(A008)

Pewarta: A.R. loebis
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2011