Jangan pura-pura bego dan membantah tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, rakyat Yogyakarta ini pemaaf, permintaan maaf ini bisa mengobati sakit hati dan kemarahan rakyat Yogyakarta.
Sleman (ANTARA News) - Puluhan anggota Forum Masyarakat Yogyakarta, Jumat, menggeruduk rumah kontrakan George Aditjondro di Desa Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Aksi itu dilakukan massa yang merasa pengarang buku "Gurita Cikeas" itu melecehkan keraton dan masyarakat Yogyakarta.

Puluhan anggota Forum Masyarakat Yogyakarta (FMY) ingin mengusir George namun  yang bersangkutan sudah lama meninggalkan rumah.

Karena George tidak ada di rumah dan pintu rumah terkunci, massa kemudian menempelkan beberapa poster di kaca jendela dan pintu. Poster tersebut di antaranya bertuliskan "Jaga mulutmu George, kalau gak suka dengan Jogja dan kraton, silakan minggat!!!, Mulutmu Harimaumu".

Kemudian beberapa orang menaburkan sekeranjang bunga mawar di teras rumah George Aditjondro dan salah seorang massa FMY Sugeng telah menyiapkan tiket bus patas Yogyakarta-Semarang agar George Aditjondro segera meninggalkan Yogyakarta. "Ini kami bawakan tiket gratis untuk minggat dari Yogya," kata Sugeng.

Menurut warga sekitar Sumaryo, rumah kontrakan George sudah lama tidak ditempati sejak kasus buku Gurita Cikeas menghebohkan Tanah Air.

Ketua Sekretariat Bersama Pendukung Keistimewaan Yogyakarta Widihasto W Putra mengatakan George Junus Aditjondro harus jantan mengakui ucapannya dan meminta maaf kepada Keraton Yogyakarta dan masyarakat Yogyakarta.

"Jangan pura-pura bego dan membantah tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, rakyat Yogyakarta ini pemaaf, permintaan maaf ini bisa mengobati sakit hati dan kemarahan rakyat Yogyakarta. Kalu tidak mau mengakui juatru akan semakin memperburuk posisi George Aditjonro," katanya.

Ucapan George yang dinilai melecehkan adalah saat dia tampil sebagai pembicara dalam diskusi publik bertema "Membedah Status Sultan Ground/Pakualaman Ground Dalam Keistimewaan Yogyakarta" di Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada Rabu 30 November 2011.
(V001)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2011