Empat bayi orang utan diselamatkan

Empat bayi orang utan diselamatkan

Bayi Orang utan (Pongo pygmaeus). (FOTO ANTARA/Wihdan Hidayat)

Sampit, Kalteng (ANTARA New ) - Empat bayi orang utan diamankan aparat Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam  Kabupaten Kotawaringin Timur  Kalimantan Tengah.

"Dalam dua bulan terakhir, Oktober-November 2011 kami berhasil mengamankan empat bayi orang utan dari warga," kata Staf Resor SKW II BKSDA Kotim, Ian Septiawan di Sampit, Selasa.

Pihak BKSDA Kotim pertama kali mengamankan bayi orang utan berumur satu tahun dari tangan seorang manteri kesehatan yang bertugas di suatu perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Bayi orang utan yang kedua berumur dua tahun diamankan dari salah seorang karyawan perusahaan perkebunan kelapa sawit, warga Desa Kuluk Telawang, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotim.

Kemudian bayi orang utan berumur dua tahun yang ketiga diamankan dari seorang warga sedangkan bayi orang utan yang keempat berumur tujuh bulan diamankan dari warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, Kabupaten Kotim.

Menurut Ian, dari empat ekor bayi orang utan yang berhasil diamankan tiga di antaranya sudah diserahkan ke pusat rehabilitasi orangutan Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat (Kobar) Kalteng.

Sedangkan untuk satu ekor lagi yang masih berumur tujuh bulan dalam perawatan karena saat di amankan dari tangan warga kondisinya sangat kritis.

Bayi orang utan yang saat ini masih dalam perawatan SKW II BKSDA Kotim nantinya akan diserahkan ke pusat rehabilitasi orang utan di Palangkalan Bun dan sebelum diserahkan membutuhkan perawatan serius.

Kondisi fisik bayi orang utan itu sekarang sudah berangsur membaik dan mulai mau minum susu serta makan.

"Seluruh bayi orang utan yang kami amankan tidak memiliki induk dan diduga induknya sudah dibunuh. Biasanya induk orang utan tidak akan meninggalkan bayinya yang belum mandiri," katanya.

Populasi orang utan di Kotim terbesar Di Kalteng dan saat ini diperkirakan ada sebanyak 31 ribu ekor lebih, namun keberadaannya sudah terancam punah seiring dengan menyempitnya habit dan tempat mereka mencari makan.
(ANT-174)

Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Ini ragam tantangan saat melepasliarkan orangutan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar