Yogyakarta (ANTARA News) - Sebanyak lima orang mengalami luka dalam kejadian tergelincirnya pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ-230 PKCKN tujuan Jakarta-Yogyakarta di ujung timur "run way" Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta, Selasa sekitar pukul 17.13 WIB.

"Ada lima penumpang yang mengalami luka akibat benturan dalam kejadian tergelincirnya pesawat Sri Wijaya Air ini, mereka saat ini sudah dirawat di rumah sakit," kata Manager Operasi PT Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto Yogyakarta Agus Tugi Arto, Selasa malam.

Menurut dia, pesawat jenis Boeing 737-300 tersebut membawa penumpang sebanyak 118 dewasa, tujuh anak-anak dan empat bayi.

"Sedangkan awak pesawat terdiri dari Kapten Pilot dan Co Pilot serta dua orang pramugari," katanya.

Ia mengatakan, seluruh penumpang pesawat naas tersebut selamat dan saat ini sudah diinapkan di hotel.

"Mereka sudah mendapatkan pelayanan dari pihak maskapai, dan yang luka juga langsung dirawat di rumah sakit," katanya.

Agus mengatakan, kejadian tersebut bermula saat masakapi Sriwijaya Air berangkat dari Jakarta sekitar pukul 13.45 WIB dari Jakarta.

"Seharusnya pesawat tersebut mendarat di Adisutjipto, namun karena saat itu bandara ditutup karena cuaca buruk dan jarak pandang hanya 500 meter maka dialihkan ke Surabaya. Kemudian di Surabaya isi bahan bakar dan berangkat lagi menuju di Yogyakarta," katanya.

Ia mengatakan, sebenarnya pesawat Sriwijaya Air direkomendasikan mendarat di Adisutjipto pukul 17.05 WIB, namun karena saat ada pesawat Garuda yang mendarat maka kemudian baru pukul 17.13 WIB Sriwijaya Air bisa mendarat.

"Namun saat melakukan pendaratan pesawat Sriwijaya tidak terkendali dan pesawat tidak bisa direm secara, sehingga terus melaju ke sisi timur landasan dan tergelincir di sisi kiri landasan dan terperosok di area rumput baru pesawat bisa berhenti," katanya

Pesawat condong ke kiri keluar landas pacu, kurang lebih 60 meter dari landasan, saat itu petugas di Bandara Adisutjipto langsung sigap dan bergerak sesuai protap yang ada dimana pemadam kebakaran dan ambulans langsung bergerak mengikuti pesawat.

"Pemadam langsung menyemprot pesawat dengan busa karena jika dengan air pesawat bisa meledak. Ambulans juga langsung membawa korban luka ke rumah sakit," katanya.
(V001)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011