Moskow (ANTARA News) - Ilmuwan asal Iran yang tewas akibat ledakan bom mobil di ibu kota Iran, Teheran pada Rabu adalah Deputi Direktur Instalasi Pengayaan Uranium Natanz, kata Kantor Berita IRNA.

Korban yang bernama Mustafa Ahmadi Roshan -berprofesi sebagai dosen di Universitas Politeknik- merupakan korban terbaru yang tewas dalam serangkaian serangan terhadap komunitas ilmiah Iran.

Sejumlah sumber polisi setempat mengatakan pengendara motor menempelkan ranjau magnet pada mobilnya di luar universitas.

"Insinyur Ahmadi Roshan yang lulusan Sarjana Kimia dari universitas bekerja sebagai Deputi Direktur Bidang Komersial di Natanz," kata Kantor Berita Mehr.

Sejumlah kejadian yang serupa -juga menewaskan ilmuwan nuklir Iran- telah terjadi di Teheran.

Pada Januari 2010, Profesor Mahsud Ali Muhammad dari Universitas Teheran tewas di luar rumah.

Polisi setempat mengatakan dia tewas saat ada motor meledak di samping mobilnya ketika dia hendak masuk ke kendaraannya.

Media setempat mengabarkan bahwa dia juga terlibat dalam program tenaga nuklir Iran dan sejumlah media menyebutnya sebagai "salah satu pemimpin ilmuwan nuklir di Iran".

Pada November 2010, sejumlah serangan bom menewaskan dua ilmuwan atom, Majid Shakhriani dan mitranya, Fereidoun Davani-Abbasi, yang juga melukai para istrinya.

Dalam kasus tersebut, mobil mereka diserang oleh pengendara motor yang tidak dikenal.

Hingga berita ini diturunkan tidak ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab atas ledakan, namun Presiden Mahmud Ahmadinejad telah menyalahkan Israel dan agen rahasia Barat atas serangan itu.

Sejumlah negara Barat menuduh penelitian tenaga nuklir Iran merupakan penyamar atas produksi senjata atom namun Teheran selalu menyangkalnya.

Baru-baru ini Iran telah memulai pengayaan uranium menjadi tingkat 20 persen di instalasi Fordo sebagai bagian program nuklirnya, kata Badan Tenaga Nuklir Internasional (IAEA) pada Senin.

Pemerintah Rusia mengatakan keprihatinannya atas upaya itu dan Amerika Serikat juga mengutuk hal tersebut.

Selain konsentrasi yang dipandang oleh kebanyakan ilmuwan terlalu rendah untuk senjata nuklir yang efisien, hal itu juga menjadi satu langkah menuju pengembangan uranium murni 235 yang cocok untuk bom nuklir, demikian RIA Novosti melaporkan.

(Uu.B019/B/H-RN)

(UU.B019/B/H-RN/H-RN) 11-01-2012 16:43:09

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2012