Angka tersebut terlalu kecil apalagi dibanding dengan negara-negara lain
Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan jumlah investor ritel pasar modal Indonesia masih terlalu kecil dibandingkan potensinya yakni hanya empat persen.

"Angka tersebut terlalu kecil apalagi dibanding dengan negara-negara lain," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam acara "LIKE IT : Sustain Habit in Investing, Invest in Sustainable Instruments" yang dipantau secara daring di Jakarta, Jumat.

Meski begitu ia tak menampik memang terdapat kenaikan yang luar biasa pada jumlah investor ritel pasar modal di Tanah Air. Pada 2019 jumlah investor ritel pasar modal tidak lebih dari 2,5 juta orang.

Kemudian angka tersebut meningkat pada 2021 menjadi tidak lebih dari 5 juta orang, yang selanjutnya semakin meningkat menjadi 9,1 juta investor ritel di pasar modal pada Juni 2022.

Baca juga: Sri Mulyani: Rasio kapitalisasi pasar modal RI kecil, hanya 48 persen

Oleh karena itu, Perry Warjiyo menegaskan pihaknya bersama-sama dengan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengajak seluruh pihak agar terus mengembangkan pasar keuangan Indonesia.

"Mari kita terus kembangkan jumlah dan nilai investor, khususnya investor ritel, untuk pembiayaan pembangunan bagi perekonomian nasional menuju Indonesia maju," ujar Gubernur BI itu.

Ia menilai peran investor sangat diperlukan untuk pembiayaan pembangunan karena negara membutuhkan biaya untuk membangun jalan tol, bandara, maupun pembangunan lainnya.

Dengan demikian, lanjut Perry Warjiyo, investor bisa menjadi pahlawan untuk memajukan ekonomi, bangsa, dan negara, hanya dengan berinvestasi.

Baca juga: Menkeu: Dana asing 50 miliar dolar kabur dari obligasi emerging market
Baca juga: Menkeu: Reformasi tata kelola pasar modal jadi kunci hadapi guncangan


 

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2022