Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengingatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera menyusun desain besar tentang penyelesaian kredit berisiko atau loan at risk (LAR) dan non-performing loan (NPL) atau kredit macet di perbankan swasta.
 
"Saya belum melihat sebuah desain besar dari OJK bagaimana dengan LAR dan NPL yang mempunyai potensi sangat besar ini, apakah mereka dibiarkan stay di perbankan, atau mereka dikeluarkan dari situ," kata Misbakhun dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
 
Menurut dia harus ada manajemen risiko yang mumpuni agar kredit bermasalah tersebut tidak mengganggu perekonomian. Menurutnya ketiadaan manajemen risiko akan berdampak besar bagi perekonomian ketika ada persoalan.
 
"Risikonya besar karena manajemen risiko sektor swastanya yang belum bisa kita kelola," ucapnya.

Baca juga: LPS sebut ketahanan perbankan masih cukup kuat

Baca juga: OJK sebut DPK perbankan tumbuh 12,21 persen pada 2021
 
Misbakhun menjelaskan tingkat restrukturisasi kredit berada di kisaran 26-30 persen dari total pinjaman yang disalurkan perbankan. "Itu, kan, menunjukkan ada loan at risk begitu tinggi di sana," kata dia.
 
Mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak itu menilai LAR yang tinggi disebabkan OJK melakukan pengecualian dalam program restrukturisasi. Menurut dia pengecualian itu tidak mengklasifikasikan LAR ke dalam kategori NPL.
 
"Pengecualian yang seperti ini, kan, memberikan loan at risk yang lebih tinggi," tuturnya.
 
OJK menjalankan program restrukturisasi kredit sejak Maret 2020 untuk menanggulangi dampak COVID-19. Program itu telah diperpanjang dan akan berlaku hingga hingga 31 Maret 2023.
 
Ketua Dewan Komisioner Mahendra Siregar dalam raker Komisi XI DPR menjelaskan jumlah kredit yang direstrukturisasi maupun debitur-nya mengalami penurunan. Dia memerinci angka restrukturisasi kredit per Juli 2022 sebesar Rp560,41 triliun atau turun dari Rp576,17 triliun pada bulan sebelumnya.

Baca juga: OJK: Kredit perbankan 2021 tumbuh 5,2 persen, NPL cenderung turun
 
Kemudian per Juli 2022, kata dia debitur yang masuk program itu mencapai 2,94 juta, sedangkan pada Juni 2022 masih di angka 2,99 juta.
 
"Kredit restru COVID-19 dan jumlah debitur terus bergerak melandai," ujarnya.

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Chandra Hamdani Noor
Copyright © ANTARA 2022